SULAWESI UTARA — Chandra Kusuma dalam artikel "Politik Kebijakan dan Ekonomi Kepercayaan" menegaskan satu variabel yang kerap terlewat dalam perumusan kebijakan publik: trust. Kepercayaan dinilai sebagai penentu utama perilaku keuangan, baik di level individu maupun pelaku pasar.
Argumentasi itu menemukan relevansinya di tengah percepatan instrumen finansial dunia. Kepercayaan tidak lagi berfungsi sebagai norma moral pasif. Ia adalah fondasi struktural yang menentukan sukses atau kegagalan sebuah inovasi ekonomi.
Pasar Karbon dan Sukuk Hijau Berdiri di Atas Janji
Pasar kredit karbon lahir bukan dari komoditas fisik yang bisa digenggam. Instrumen ini berdiri di atas sebuah janji: satu ton aset karbon merepresentasikan pengurangan emisi yang nyata, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kepercayaan investor pada komitmen tersebut ditopang beberapa pilar teknis. Metodologi MRV (Measurement, Reporting, and Verification) yang solid, standar pengukuran terbaik, sistem pencatatan terintegrasi untuk mencegah double counting, serta verifikasi independen oleh pihak ketiga bersertifikat.
Hal serupa berlaku pada Green Sukuk dan Green Bond. Penerbit instrumen wajib melaporkan dampak riil setiap rupiah dana yang terhimpun terhadap penurunan emisi. Tujuannya satu: mencegah praktik greenwashing, memastikan label "hijau" benar-benar membawa perubahan nyata.
Ketika Fondasi Kepercayaan Retak
Sejarah pasar karbon sukarela (Voluntary Carbon Market/VCM) memberi pelajaran mahal. Skandal greenwashing yang terungkap pada awal 2023—soal metodologi proteksi hutan yang dinilai kurang valid—seketika meruntuhkan kepercayaan pasar global.
Laporan Ecosystem Marketplace mencatat transaksi pasar karbon merosot tajam. Dari puncak US$2 miliar pada 2021 menjadi US$535 juta pada 2024, dengan harga kredit karbon terdepresiasi drastis.
Pasar butuh waktu bertahun-tahun dan evaluasi standar kualitas menyeluruh—seperti yang dilakukan ICVCM—untuk memulihkan stabilitas harga dan kepercayaan pembeli. Tanpa trust, instrumen finansial secanggih apa pun bisa runtuh seketika.
Modal Sosial Indonesia Terkuat di ASEAN
Secara sosiologis, kepercayaan adalah inti dari modal sosial. Robert D. Putnam (1993) dalam Making Democracy Work merumuskan modal sosial sebagai jaringan, norma, dan kepercayaan masyarakat yang memfasilitasi koordinasi dan kerja sama demi kemanfaatan bersama.
Modal sosial yang tinggi terbukti menurunkan biaya transaksi ekonomi, mempercepat alokasi sumber daya, dan meningkatkan daya tahan nasional menghadapi krisis.
Indonesia dikaruniai modal sosial yang kokoh. Berdasarkan laporan Global Sustainable Competitiveness Index yang dirilis lembaga riset SolAbility, indikator Social Capital Index Indonesia konsisten menempati peringkat tertinggi di kawasan ASEAN.
Keunggulan ini bukan kebetulan. Semangat gotong royong sudah menjadi bahan bakar rakyat bergerak serempak sejak merebut kemerdekaan hingga masa krisis modern seperti pandemi COVID-19. Modal sosial itu mewujud nyata dalam gerakan organik #WargaJagaWarga—masyarakat saling berbagi makanan untuk tetangga yang isolasi mandiri, menggalang tabung oksigen swadaya, hingga menyediakan transportasi gratis.
Mengubah Kepercayaan Jadi Instrumen Finansial
Aset sosial yang melimpah ini seharusnya diartikulasikan lebih terstruktur ke dalam pembuatan kebijakan publik. Salah satu bentuk optimalisasinya adalah penerapan meaningful public participation atau partisipasi publik yang bermakna.
Kebijakan yang dirancang transparan dan merangkul aspirasi publik akan memupuk rasa memiliki serta kepercayaan warga terhadap regulasi pemerintah.
Di sektor finansial inklusif, modal sosial mulai ditransformasikan menjadi inovasi konkret. Startup agritech Eratani mengembangkan sistem alternative credit scoring bernama EraSHIELD.
Berbeda dari perbankan konvensional yang mensyaratkan agunan fisik atau rekam jejak formal, EraSHIELD mengevaluasi kelayakan kredit petani dengan melibatkan indikator karakter dan reputasi sosial di lingkungan warga sekitar. Skema ini membuktikan modal sosial dan trust lokal dapat dikonversi menjadi instrumen finansial yang membebaskan petani dari jerat kemiskinan.
Kepercayaan sebagai Komoditas Utama Ekonomi Modern
Pada akhirnya, kepercayaan bukan pelengkap. Ia komoditas utama yang menentukan arah dan nilai perekonomian modern, baik dalam transaksi pasar karbon global maupun dalam kebijakan publik yang menyentuh langsung kehidupan warga.