MANADO — Empat daerah di Sulawesi Utara yang dihitung Indeks Harga Konsumen seluruhnya mencatat inflasi pada Agustus 2026, dengan Minahasa Utara memimpin di angka 0,92%. Kondisi ini berbalik dari bulan sebelumnya ketika provinsi ini mengalami deflasi dalam.
Kepala BPS Sulawesi Utara Watekhi menyebut kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang andil inflasi terbesar sebesar 0,19 persen, disusul transportasi 0,09 persen.
Minahasa Utara Tertekan Lonjakan Harga Kangkung
Kangkung menjadi komoditas pendorong inflasi terbesar di Minahasa Utara dengan andil 0,47 persen. Berbeda dengan Manado dan Minahasa Selatan yang inflasinya didorong cabai rawit, sementara Kotamobagu dipicu harga cakalang diawetkan.
Tomat menjadi penahan laju inflasi di keempat daerah tersebut. Komoditas ini tercatat mengalami deflasi.
Transportasi, Pendidikan, dan Makanan Sumbang Inflasi Terbesar
Berdasarkan rilis BPS yang disampaikan Selasa (01/09/26), kelompok transportasi mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,71 persen. Disusul pendidikan 0,63 persen serta makanan, minuman, dan tembakau 0,57 persen.
Cabai rawit menjadi komoditas penyumbang inflasi tertinggi sebesar 0,33 persen. Kangkung menyusul dengan 0,14 persen dan angkutan udara 0,07 persen.
Deflasi Tomat, Bawang Merah, dan Bawang Putih
Di sisi lain, tomat mengalami deflasi terbesar dengan penurunan 0,48 persen. Bawang merah dan bawang putih masing-masing turun 0,07 persen dan 0,06 persen.
Inflasi Tahunan Masih di Atas Target Nasional
Inflasi tahun kalender hingga Agustus 2026 mencapai 3,68 persen, sedikit di atas rentang sasaran pemerintah. Sementara inflasi tahunan tercatat 3,99 persen.
Perhitungan IHK bulan Agustus mencakup Kota Manado dengan inflasi 0,14 persen, Minahasa Selatan 0,28 persen, dan Kotamobagu 0,04 persen.