SULAWESI UTARA — Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (BEM FH UBK) sekaligus koordinator aksi, Muhammad Abdi Maludin, mengatakan bahwa dirinya dan massa mahasiswa sempat berusaha menerobos pagar besi di dekat Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Selatan. Mereka mendesak bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto.
"Saya sampaikan dan menyampaikan tawaran ataupun harapan kawan-kawan mahasiswa yang ikut serta aksi tersebut. Siapa pun pihak istana ingin menemui kami ini di dalam aksi di Silang Monas ini," kata Abdi saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (16/6/2026).
Di tengah negosiasi yang menemui jalan buntu, informasi tentang kesediaan Wakil Presiden Gibran menerima perwakilan mahasiswa tiba. Abdi bersama 14 rekannya kemudian berjalan menuju Istana Wakil Presiden dan menjalani pemeriksaan ketat oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) sebelum masuk.
Wapres Catat Aspirasi, Tolak Tanda Tangan Memorandum
Dalam pertemuan yang digelar tertutup itu, Wapres Gibran yang mengenakan batik cokelat dan biru menyambut dan menyalami satu per satu mahasiswa. Ia juga menanyakan asal kampus mereka. "Maaf ya, sampaikan salam kepada yang di luar, tidak bisa masuk semua," ucap Wapres.
Abdi menuturkan, Wapres Gibran membawa sebuah buku kecil dan mencatat seluruh kritik serta kegelisahan yang disampaikan mahasiswa. "Wapres juga mencatat kritikan-kritikan apa yang harus dievaluasi untuk membangun Indonesia agar lebih baik gitu," kata Abdi.
Wapres Gibran menyampaikan apresiasi dan mengakui masih banyak kekurangan dalam program dan kebijakan nasional. “Yang sudah kita capai sekarang, apa yang sudah dibangun itu yang kita rawat bersama. Saya sadar masih banyak minus-minusnya, kekurangannya banyak, ya ini yang harus kita perbaiki bersama,” tutur Gibran seperti dikutip dari siaran pers, Selasa (16/6/2026).
Namun, ketika mahasiswa meminta Wapres menandatangani memorandum kesepakatan sebagai bukti penerimaan aspirasi, pihak istana menolak. "Harapan kami juga kemarin itu kenapa ada memorandum dan kenapa adanya tanda tangan Wapres sebagai bentuk bahwa aspirasi kita ataupun memorandum kita sudah diterima,” kata Abdi. Wapres Gibran memastikan seluruh aspirasi akan menjadi bahan evaluasi dan diteruskan kepada Presiden Prabowo.
Jamuan Teh, Salat Bersama, dan Ultimatum 5x24 Jam
Selama pertemuan, Wapres menjamu perwakilan mahasiswa dengan teh. Meski tidak haus, mereka menerima jamuan itu sebagai bentuk penghormatan. Tawaran untuk makan bersama ditolak mahasiswa. Di akhir pertemuan, Wapres mengajak mereka melaksanakan salat berjamaah, dan sebagian mahasiswa mengikutinya.
Perwakilan mahasiswa memberikan tenggat waktu 5x24 jam bagi pemerintah untuk menindaklanjuti tuntutan yang telah disampaikan. "Ketika ultimatum dalam 5x24 jam itu tidak terpenuhi, maka kami akan melakukan konsolidasi jilid kedua dan melakukan gelar aksi jilid kedua secara masif," tutup Abdi.