MINAHASA UTARA — Keberhasilan Kelompok Tani Sehati memanen jagung Yellow Corn di lahan 15 hektare menjadi perhatian Kapolda Sulut Irjen Pol Yudo Hermanto. Menurutnya, capaian itu lahir dari kerja bersama kelompok tani, penyuluh pertanian, Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten, serta owner Girian Jaya yang mengembangkan varietas tersebut.
Mengapa Yellow Corn Tetap Bisa Dipanen Saat Kemarau
Keunggulan utama varietas ini terletak pada kemampuannya bertahan hingga masa panen di musim kemarau. Kondisi cuaca ekstrem akibat El Nino membuat banyak tanaman sulit tumbuh, namun jagung Yellow Corn justru berhasil dipanen di wilayah Sulawesi Utara.
"Keunggulan utama dari varietas jagung ini adalah kemampuannya untuk tetap dapat dipanen di musim kemarau," ucap Kapolda Sulut.
Ia menilai hasil panen di Minahasa Utara sebagai sesuatu yang membanggakan bagi provinsi. Metode serupa diharapkan bisa diterapkan di daerah lain agar produksi pertanian tidak terganggu cuaca yang sedang melanda.
Peran Petani dan Aparat dalam Ketahanan Pangan Sulut
Kapolda menempatkan petani sebagai pihak strategis dalam menyediakan kebutuhan pangan masyarakat. Peningkatan kesejahteraan petani, menurutnya, harus berjalan seiring upaya menaikkan hasil dan kualitas produksi pertanian.
Panen raya di Minahasa Utara dinilai bukan sekadar momentum memetik hasil tanam dan pemeliharaan. Kegiatan itu menjadi wujud komitmen bersama memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas pertanian, serta mendukung swasembada pangan nasional.
"Lahan seluas 15 hektare yang kita panen hari ini menunjukkan pentingnya pemanfaatan lahan secara produktif melalui perencanaan yang baik, pendampingan yang berkelanjutan, serta kerja sama yang erat antara pemerintah, aparat keamanan, kelompok tani, dan seluruh pihak terkait," tambahnya.
Ajakan Memperluas Lahan Produktif Usai Panen Raya
Kapolda meminta seluruh pihak tidak berhenti pada seremoni panen raya. Momentum ini diharapkan menjadi motivasi memperluas pemanfaatan lahan produktif, menaikkan hasil pertanian, dan membangun kolaborasi lebih kuat demi ketahanan pangan di Provinsi Sulut.
Panen di Kabupaten Minahasa Utara menjadi contoh bagaimana perencanaan lahan, pendampingan berkelanjutan, dan kerja sama lintas pihak berjalan dalam satu rangkaian. Hasilnya terlihat pada 15 hektare lahan yang tetap berproduksi saat tanaman lain kesulitan tumbuh.