SULAWESI UTARA — Penjualan mobil LCGC di Indonesia menyusut 11 persen menjadi 83.997 unit pada Januari–September 2026, sementara distribusi mobil listrik berbasis baterai melesat 113,7 persen ke 117.218 unit. Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto menyebut harga BEV yang makin bersaing dan biaya operasional lebih murah jadi penyebab utama konsumen berpindah. Tekanan pada segmen LCGC ini muncul saat sejumlah BEV sudah dijual di bawah Rp200 juta di pasar lokal.
Data wholesales Gaikindo menempatkan LCGC pada posisi tertekan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Penurunan 11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu itu berbanding terbalik dengan laju distribusi BEV ke dealer yang tumbuh lebih dari dua kali lipat.
Produksi LCGC Ikut Menyusut di Tiga Merek
Pelemahan permintaan LCGC terlihat pula di lini produksi. Gaikindo mencatat produksi segmen ini turun enam persen menjadi 110.693 unit pada Januari–September 2026, dari 117.733 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka produksi itu berasal dari tiga merek yang memproduksi LCGC di Indonesia, yakni Honda, Toyota, dan Daihatsu. Penurunan produksi sejalan dengan penyusutan wholesales, menandakan produsen menyesuaikan volume ke permintaan dealer.
Harga BEV Makin Dekat ke Banderol LCGC
Jongkie D. Sugiarto menilai harga menjadi titik gesek utama antara kedua segmen. Mobil listrik berbasis baterai kini dijual makin dekat ke banderol LCGC, bahkan sebagian model sudah berada di bawah Rp200 juta.
"Saat ini harga mobil LCGC disaingi oleh BEV. Biaya operasi BEV lebih murah, maka dari itu banyak yang beralih," kata Jongkie saat dihubungi, Selasa (20/10).
Selisih harga yang menipis membuat konsumen menghitung ulang total biaya kepemilikan. Biaya pengisian daya yang lebih rendah dibanding konsumsi bahan bakar menjadi pertimbangan yang disebut Jongkie mendorong peralihan.
Distribusi Mobil Listrik Naik 113,7 Persen
Di sisi lain, distribusi BEV dari pabrik ke dealer mencapai 117.218 unit hingga September 2026. Jumlah itu tumbuh 113,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dengan capaian tersebut, volume distribusi BEV kini melampaui total wholesales LCGC pada sembilan bulan pertama 2026. Pergeseran ini menempatkan segmen mobil listrik sebagai pesaing langsung di kelas harga terjangkau, bukan lagi hanya di segmen premium.
Dampak ke Pemilik LCGC dan Calon Pembeli
Bagi pemilik LCGC, tekanan ini tidak langsung mengubah biaya kepemilikan. Namun bagi calon pembeli di kelas harga di bawah Rp200 juta, pilihan kini terbuka ke model berbasis baterai dengan biaya operasional lebih rendah.
Gaikindo belum memerinci proyeksi penjualan LCGC hingga akhir 2026. Yang jelas, data sembilan bulan menunjukkan segmen ini kehilangan pangsa ke kendaraan listrik di segmen harga yang sama.