MANADO — Neraca perdagangan Sulawesi Utara (Sulut) periode Januari–Juli 2026 membukukan surplus 603,37 juta dolar AS. Nilai ekspor provinsi itu mencapai 738,01 juta dolar AS, naik 3,32 persen dibanding periode sama 2025 yang tercatat 714,30 juta dolar AS.
MANADO — Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut menunjukkan impor pada semester pertama 2026 tumbuh jauh lebih agresif dibanding ekspor. Nilai impor Januari-Juli mencapai 134,64 juta dolar AS, melonjak 39,98 persen dari periode yang sama tahun lalu yang hanya 96,19 juta dolar AS.
Kepala BPS Sulut Dr Watekhi menyatakan kinerja ekspor daerah tetap tumbuh positif meski laju impor lebih tinggi secara persentase.
"Meskipun di periode semester pertama ini impor mengalami peningkatan dibandingkan ekspor, namun tercatat Sulut masih mengalami surplus," kata Watekhi di Manado, Rabu.
Lemak dan Minyak Nabati Masih Jadi Andalan Ekspor
Komoditas lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) tetap mendominasi struktur ekspor Sulut. Nilainya mencapai 533,35 juta dolar AS pada Januari-Juli 2026, naik 3,77 persen dibanding capaian 513,99 juta dolar AS pada periode sama 2025.
Sepanjang bulan Juli 2026 saja, komoditas ini menyumbang sekitar 72,27 persen dari total nilai ekspor Sulut yang mencapai 96,51 juta dolar AS. Angka ekspor bulanan itu turun 29,17 persen dibandingkan Juli 2025.
Bahan Bakar Mineral Dominasi Impor
Di sisi impor, bahan bakar mineral (HS 27) menjadi komoditas terbesar dengan nilai 84,92 juta dolar AS. Realisasi ini naik 14,76 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 74,00 juta dolar AS.
Pada Juli 2026, nilai impor Sulut tercatat 33,33 juta dolar AS atau meningkat 62,69 persen secara tahunan. Dengan kombinasi tersebut, neraca perdagangan Sulut pada Juli 2026 masih mencatat surplus 63,18 juta dolar AS.
Ekspor ke AS Naik Hingga 332 Persen
Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor terbesar Sulut pada Januari-Juli 2026 dengan nilai 154,71 juta dolar AS. Capaian ini melonjak 332,22 persen dibanding periode sama tahun 2025 yang hanya sebesar 35,79 juta dolar AS.
Watekhi menambahkan bahwa tren peningkatan ini menandakan daya saing produk Sulut di pasar global terus menguat. "Hal ini menandakan bahwa kinerja ekspor Sulut terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu," ujarnya.
Sementara itu, Malaysia menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai mencapai 60,05 juta dolar AS, naik 51,42 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.