SULAWESI UTARA — Kepala BGN, Nanik S. Deyang, secara resmi mengumumkan perubahan haluan strategi lembaganya di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (8/6). Ia menegaskan bahwa jajarannya kini tidak akan terburu-buru mengejar target pembangunan dapur baru. "Kita bukan mengejar kuantitas," kata Nanik di hadapan wartawan.
Pernyataan itu sekaligus mengoreksi persepsi publik yang selama ini mengukur keberhasilan program dari banyaknya titik dapur yang berdiri. Menurut Nanik, kecepatan ekspansi justru berpotensi mengorbankan aspek higienitas dan gizi yang menjadi inti program.
Dapur Dikelompokkan, Standar Teknis Jadi Acuan Audit
BGN akan mengelompokkan seluruh dapur operasional berdasarkan kategori wilayah dan kapasitas produksi. Masing-masing kelompok akan dievaluasi kesesuaiannya dengan petunjuk teknis (juknis) yang sudah diterbitkan sebelumnya. Nanik menyebut proses ini sebagai langkah "kontrol kualitas" yang akan menjadi pekerjaan utama lembaganya dalam waktu dekat.
Pemeriksaan tidak hanya menyasar kebersihan fisik dapur, tetapi juga rantai pasok bahan baku, kompetensi tenaga pengolah, hingga metode distribusi makanan. Jika ditemukan pelanggaran, BGN tidak segan memberikan sanksi berupa pembekuan operasional sementara hingga perbaikan dilakukan.
Mengapa Prioritas Bergeser Sekarang?
Keputusan ini muncul di tengah tekanan publik yang mengkhawatirkan kasus keracunan makanan di sejumlah daerah yang menerima pasokan dari dapur program. Meski Nanik tidak menyebutkan insiden spesifik, ia mengakui bahwa program ini menyangkut kelompok rentan—anak-anak sekolah dan ibu hamil—sehingga standar keamanan pangan tidak bisa ditawar.
Perubahan fokus ini juga mengindikasikan bahwa BGN telah mencapai titik jenuh dalam hal pembangunan infrastruktur dapur. Alih-alih membuka lokasi baru yang belum tentu siap, lembaga ini memilih mengkonsolidasikan unit yang sudah berjalan agar benar-benar berfungsi optimal.
Tantangan Implementasi di Lapangan
Langkah audit massal ini bukan tanpa risiko. Di daerah terpencil, ketersediaan tenaga ahli gizi dan pengawas pangan masih terbatas. BGN kemungkinan akan bekerja sama dengan dinas kesehatan setempat dan perguruan tinggi untuk memperkuat tim inspeksi.
Nanik belum merinci berapa banyak dapur yang akan diperiksa pada tahap pertama, atau berapa lama proses evaluasi akan berlangsung. Yang jelas, ia menegaskan bahwa BGN tidak akan ragu menutup dapur yang terbukti tidak layak. "Kita bukan mengejar kuantitas," ujarnya mengulang, seolah menekankan bahwa kali ini kata-kata itu adalah janji, bukan sekadar slogan.