MANADO — Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar keuangan domestik kembali menunjukkan tren positif dengan ditutup menguat di level Rp17.628 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Level tersebut berbalik menguat setelah sebelumnya tekanan terhadap mata uang Garuda masih cukup dominan dalam sepekan terakhir.
Penguatan ini tidak terlepas dari melemahnya indeks dolar AS di pasar global, ditambah aliran modal asing yang mulai masuk ke instrumen berdomisili domestik. Para analis menilai kombinasi faktor tersebut menjadi pendorong utama apresiasi rupiah.
"Sentimen positif dari dalam negeri dan pengaruh dolar AS yang melemah menjadi pendorong utama," ungkap seorang analis dalam catatan hariannya, Senin (17/3).
Potensi Dampak ke Impor dan Sektor Wisata
Penguatan nilai tukar kali ini dinilai membawa angin segar bagi sejumlah sektor usaha yang bergantung pada bahan baku impor. Bagi pelaku industri di Sulawesi Utara yang mengimpor barang setengah jadi, apresiasi rupiah berpeluang menekan biaya produksi.
Di sisi lain, sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah juga diprediksi ikut merasakan efek positif. Nilai tukar yang lebih stabil membuat biaya operasional untuk pengelolaan destinasi dan hotel yang kerap menggunakan peralatan impor menjadi lebih ringan.
Analis Ingatkan Dinamika Ekonomi Global
Kendati penguatan hari ini menunjukkan potensi bertahan dalam jangka pendek, sejumlah ahli mengingatkan agar pelaku pasar tidak lengah. Fluktuasi nilai tukar disebut masih sangat rentan terhadap perubahan kebijakan moneter di negara-negara besar, terutama The Fed.
Kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat yang kerap berubah arah bisa memicu pergerakan dolar AS secara tiba-tiba. Kondisi ini pun berpotensi menahan laju penguatan rupiah lebih lanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Para analis akan terus memantau dinamika ini dalam beberapa hari ke depan sembari menimbang data ekonomi terbaru yang dirilis baik dari dalam negeri maupun kawasan.