JAKARTA — Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa memperkirakan rupiah masih akan berada dalam tekanan jangka pendek. Pelaku pasar disebut tengah menanti data ketenagakerjaan AS pada akhir pekan ini sebagai petunjuk arah kebijakan moneter Federal Reserve.
“Pelemahan rupiah saat ini masih lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Pelaku pasar menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Selain faktor data ekonomi AS, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah turut mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Sentimen Domestik Masih Menopang Rupiah
Dari dalam negeri, pasar mencermati sejumlah data makro yang dirilis pekan ini. Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) Juni 2026 tercatat defisit lebih kecil dari perkiraan, sementara inflasi Juli masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia.
Hari ini, perhatian investor tertuju pada rilis Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026. Data ini menjadi ujian bagi fundamental ekonomi domestik di tengah gejolak eksternal.
“Apabila pertumbuhan ekonomi berada di atas ekspektasi pasar, rupiah berpotensi memperoleh sentimen positif karena mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang tetap solid,” kata Amru.
Potensi Ruang Pelemahan Terbatas
Kendati tekanan eksternal masih mendominasi, ruang pelemahan rupiah dinilai relatif terbatas. Inflasi domestik yang terkendali, prospek pertumbuhan ekonomi yang positif, serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar menjadi penyangga utama.
Ke depan, arah pergerakan rupiah akan sangat ditentukan oleh dua data utama: PDB Indonesia yang dirilis hari ini dan data ketenagakerjaan AS pada akhir pekan.
“Jika PDB Indonesia lebih baik dari perkiraan dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali mereda, rupiah berpeluang menguat. Sebaliknya, apabila data ekonomi AS kembali menunjukkan penguatan sehingga mendorong dolar AS terapresiasi, rupiah masih berpotensi bergerak mendekati batas atas kisaran proyeksi tersebut,” ujar Amru.