KOTAMOBAGU — Raut duka masih terlihat jelas di wajah Ningsih Dondo saat menerima kunjungan Danny Ngantung di rumahnya, Desa Pontodon Timur, Kecamatan Kotamobagu Utara. Air matanya tak terbendung mengingat suaminya, Muksin Dondo, yang meninggal dunia setelah enam hari berjuang menjalani perawatan intensif akibat luka berat dalam kecelakaan drag race di Kelurahan Upai, Minggu (9/8/2026).
Kehilangan itu meninggalkan luka mendalam, sekaligus persoalan baru bagi Ningsih. Ia kini harus berjalan sendiri menafkahi keluarga, sementara salah satu anaknya masih duduk di bangku kuliah dan kebutuhan hidup terus berjalan.
Harapan yang Tak Boleh Putus di Tengah Duka
Di sela kesedihan itu, Ningsih menyampaikan satu harapan yang ia genggam erat. Ia berharap perhatian dari keluarga Tian Ngantung tidak berhenti pada kunjungan ini saja. Komunikasi dan dukungan yang berkelanjutan dinilainya jauh lebih berarti bagi keluarganya yang sedang berduka.
Kehadiran Danny Ngantung di tengah keluarga korban ia sambut sebagai bentuk kepedulian atas musibah yang menimpa. Namun, Ningsih menggarisbawahi bahwa kebutuhan keluarganya ke depan masih panjang, terutama dengan statusnya yang kini menjadi tulang punggung tunggal.
Tanggung Jawab Lebih Lanjut Masih Abu-Abu
Dalam pertemuan tersebut, Danny Ngantung menyampaikan bahwa kedatangannya merupakan wujud empati terhadap musibah yang terjadi. Meski demikian, ia belum dapat memastikan bentuk tanggung jawab lebih lanjut dari keluarga besarnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan bantuan untuk keluarga korban atau penanganan medis bagi korban lain yang masih dirawat, Danny belum memberikan keterangan. Padahal, sejumlah korban lain dalam insiden yang sama masih membutuhkan perawatan intensif setelah mengalami luka berat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan mengenai mekanisme pendampingan atau bantuan yang akan diberikan kepada keluarga Muksin Dondo. Publik Kotamobagu pun menanti langkah konkret dari pihak terkait untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.