Pencarian

Harga BBM Non Subsidi Naik, Rupiah Menguat 158 Poin ke Rp 17.900 per Dolar AS

Rabu, 10 Juni 2026 • 17:10:31 WIB
Harga BBM Non Subsidi Naik, Rupiah Menguat 158 Poin ke Rp 17.900 per Dolar AS
Rupiah menguat ke Rp 17.900 per dolar AS seiring kenaikan harga BBM non subsidi.

JAKARTA — Pergerakan rupiah kontras dengan tren pelemahan beberapa hari terakhir. Berdasarkan data pasar, rupiah dibuka di Rp 17.900 per dolar AS, membaik dari posisi penutupan sebelumnya di Rp 18.058 per dolar AS.

Kenaikan Pertamax dan Pertamax Green Jadi Pemicu

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut kenaikan harga BBM non subsidi menjadi sentimen positif dari sisi domestik. Menurutnya, transmisi kebijakan ini dinilai baik oleh pelaku pasar terhadap fiskal pemerintah, ditambah risiko sosial politik yang masih terkendali.

Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter per 10 Juni 2026. Sementara itu, Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. Perusahaan menyebut penyesuaian ini dilakukan berdasarkan mekanisme evaluasi berkala dengan mempertimbangkan harga minyak dunia dan harga pasar keekonomian.

“Transmisi kebijakan kenaikan harga BBM non subsidi dinilai baik terhadap fiskal pemerintah dan risiko sosial politik yang masih terkendali,” ujar Rully kepada ANTARA di Jakarta.

Harga BBM Subsidi dan Jenis Lainnya Tetap Stabil

Meski dua varian naik, sejumlah produk BBM non subsidi lainnya tidak berubah. Pertamax Turbo (RON 98) masih Rp 20.750 per liter, Dexlite (CN 51) Rp 23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) Rp 24.800 per liter.

Untuk bahan bakar bersubsidi, Pertalite tetap di harga Rp 10.000 per liter dan Biosolar masih Rp 6.800 per liter. Artinya, beban kenaikan hanya dirasakan pengguna kendaraan yang mengonsumsi BBM non subsidi.

Sentimen Lain: BI Rate Naik, Konflik Global Masih Bayangi

Selain harga BBM, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,5 persen juga ikut menopang penguatan rupiah. Efeknya terlihat dari menguatnya indeks saham dan terjaganya minat investor asing pada lelang obligasi.

Namun, Rully mengingatkan faktor global masih akan membebani laju rupiah lebih lanjut. Eskalasi konflik AS dan Iran membuat harga minyak mentah masih bertahan di level tinggi. Pelaku pasar juga masih menunggu data inflasi AS yang diperkirakan meningkat.

“Faktor global akan memperberat langkah rupiah untuk penguatan lebih jauh,” ungkapnya.

Sepanjang hari, rupiah diprediksi bergerak dalam rentang Rp 18.030 hingga Rp 18.080 per dolar AS.

Bagikan
Sumber: manado.antaranews.com

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks