KENDARI — Program pembibitan kelapa dan kakao di Sulawesi Tenggara mendapat sorotan langsung dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Dalam kunjungan kerjanya, Mentan Amran menegaskan bahwa skema distribusi bibit gratis yang diterapkan di provinsi ini harus menjadi model nasional.
38 Juta Benih Gratis untuk Petani Sultra
Pemerintah pusat mengalokasikan 38 juta benih dari total 280 juta batang bibit yang disiapkan secara nasional. Seluruh bantuan ini diberikan tanpa biaya kepada petani, mulai dari bibit kelapa hingga kakao unggul.
“Ini harus dicontoh seluruh Indonesia. Petani tidak perlu pusing memikirkan modal bibit, negara hadir,” ujar Mentan Amran dalam sambutannya di lokasi pembibitan.
Strategi Peremajaan Tanaman Perkebunan
Langkah ini merupakan bagian dari program peremajaan tanaman perkebunan nasional. Pemerintah menargetkan peningkatan produktivitas kelapa dan kakao melalui penyediaan bibit berkualitas yang tahan hama dan memiliki hasil panen lebih tinggi.
Kepala Dinas Perkebunan Sultra menyebut bahwa ribuan petani di wilayah sentra produksi seperti Kabupaten Kolaka, Konawe, dan Bombana akan menjadi penerima utama. Pendataan petani saat ini tengah dipercepat agar distribusi tepat sasaran.
Apa yang Membedakan Program Ini?
Tidak seperti skema kredit atau pinjaman, bantuan bibit ini bersifat hibah penuh. Petani tidak dikenakan biaya sepeser pun, termasuk biaya pengiriman ke kelompok tani. Mentan Amran menekankan bahwa program ini dijalankan dengan sistem transparan dan tanpa perantara yang tidak perlu.
“Kami ingin petani fokus mengelola lahannya, bukan mengurus utang bibit,” tegasnya.
Dampak bagi Produksi Kakao dan Kelapa Nasional
Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar dunia, namun produktivitas perkebunan rakyat masih rendah. Dengan tambahan 38 juta benih di Sultra, pemerintah optimistis produksi kakao nasional bisa meningkat signifikan dalam 3-4 tahun ke depan.
Sementara untuk kelapa, program ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan industri hilir seperti minyak goreng dan kopra yang selama ini kerap kekurangan pasokan lokal.