TAHUNA — Kabupaten Kepulauan Sangihe memperkenalkan pengalaman pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan di forum internasional. Bupati Michael Thungari diundang sebagai pembicara dalam sesi yang digelar organisasi internasional Rare bersama Blue Ventures dan International Collective in Support of Fishworkers (ICSF). Forum itu membahas pentingnya pengelolaan perikanan pesisir berbasis masyarakat sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian ekosistem laut.
Dalam forum tersebut, Thungari memaparkan tiga hal yang menjadi fokus pemerintahannya: pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan, perlindungan keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan masyarakat pesisir. Ketiga agenda itu dinilai relevan dengan tema besar CBD COP17 yang mempertemukan pemerintah, organisasi lingkungan, dan komunitas pesisir dari berbagai negara.
Kehadiran Bupati Sangihe menjadi satu-satunya perwakilan kepala daerah Indonesia di forum itu. Posisi tersebut membawa perspektif daerah kepulauan dan masyarakat pesisir dari wilayah perbatasan utara Indonesia ke ruang diskusi yang biasanya didominasi perwakilan pemerintah pusat dan lembaga internasional.
Thungari menegaskan bahwa laut memiliki arti penting bagi masyarakat Sangihe, bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan keberlangsungan hidup masyarakat kepulauan.
“Menjaga laut berarti menjaga sumber kehidupan, jati diri, dan masa depan masyarakat Sangihe. Karena itu, pengelolaan sumber daya laut harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat pesisir sebagai bagian penting dari upaya pelestarian,” tegas Thungari dalam keterangan yang dikutip dari laporan Sulutnews.com.
Partisipasi Thungari di Armenia berkaitan dengan perannya sebagai “Coastal 500 Champion Indonesia”. Keikutsertaannya difasilitasi dan dibiayai oleh Rare sebagai bentuk dukungan terhadap kepemimpinan lokal yang mendorong pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.
Komitmen itu tercermin dari langkah Sangihe pada Maret 2026 yang berhasil menggerakkan 105 pemimpin pemerintahan lokal untuk bergabung dalam jejaring global Coastal 500. Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi antarpemimpin lokal dalam memperkuat perlindungan laut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Menurut Thungari, keterlibatan daerah dalam forum internasional harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi kebanggaan karena dapat tampil di panggung dunia.
“Harapan kami, keikutsertaan ini dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, sehingga upaya menjaga kelestarian laut berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Sangihe memiliki potensi kelautan yang besar dan perlu didukung melalui kerja sama serta program yang berkelanjutan,” tambahnya.
Kemitraan dengan organisasi nonpemerintah internasional, lembaga donor, dan berbagai institusi terkait berpotensi menghadirkan dukungan program, pendampingan teknis, hingga pembiayaan di sektor kelautan, konservasi keanekaragaman hayati, dan pengembangan ekonomi masyarakat pesisir. Pemerintah Sangihe berharap momentum ini menjadi pintu masuk bagi kolaborasi konkret yang mampu memberikan manfaat bagi warga di wilayah kepulauan.