SULAWESI UTARA — Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM melaporkan dominasi sektor pengolahan masih berlanjut pada paruh pertama tahun ini. Selain logam dasar, sektor jasa lainnya—yang mencakup reparasi komputer, barang rumah tangga, hingga jasa perorangan—menempati posisi kedua dengan realisasi Rp 113,96 triliun, disusul pertambangan Rp 104,98 triliun.
Transportasi dan Infrastruktur Digital Raih Investasi Rp 102,7 Triliun
Sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi membukukan investasi Rp 102,7 triliun, menandakan minat yang tetap kuat pada pembangunan infrastruktur digital dan logistik. Sementara itu, sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran menarik dana Rp 85,76 triliun, diikuti perdagangan dan reparasi dengan Rp 71,08 triliun.
Di sisi industri manufaktur, industri makanan mencatatkan investasi Rp 50,82 triliun, sedikit di atas industri kimia dan farmasi yang meraih Rp 46,26 triliun. Sektor listrik, gas, dan air menyusul dengan realisasi Rp 46,14 triliun, menunjukkan keberlanjutan proyek-proyek energi nasional.
Kontribusi PMA dan PMDN Hampir Berimbang
Struktur investasi semester I 2026 memperlihatkan keseimbangan yang nyaris sempurna antara modal asing dan domestik. Selisih PMA terhadap PMDN hanya sekitar Rp 4,7 triliun, sebuah sinyal bahwa investor lokal mulai mengambil porsi setara dengan investor global di berbagai sektor.
Pertanian dalam arti luas—tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan—menarik investasi Rp 34,64 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan sektor hotel dan restoran yang mencapai Rp 30,63 triliun, serta konstruksi sebesar Rp 25,11 triliun.
Industri Mesin dan Kendaraan Bermotor Masih Tertinggal
Kelompok industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam baru menyerap Rp 23,53 triliun. Sektor kendaraan bermotor dan alat transportasi lain bahkan lebih kecil, hanya Rp 20,27 triliun, menandakan rantai pasok manufaktur bernilai tambah tinggi belum menjadi magnet utama investasi.
Adapun industri kertas dan percetakan membukukan Rp 19,6 triliun, sedikit di atas industri karet dan plastik yang mencapai Rp 18,31 triliun. Posisi terbawah ditempati industri barang dari kulit dan alas kaki dengan realisasi Rp 14,3 triliun.
Peta Investasi: Hilirisasi Masih Jadi Andalan
Data BKPM ini menegaskan bahwa hilirisasi mineral tetap menjadi lokomotif penarik investasi, tercermin dari besarnya aliran dana ke industri logam dasar. Namun, celah investasi di sektor hilir lain seperti elektronik dan transportasi masih terbuka lebar, mengingat realisasinya yang relatif kecil dibandingkan potensi pasar domestik.
Bagi pelaku bisnis, komposisi PMA dan PMDN yang berimbang juga membuka peluang kemitraan strategis, terutama di sektor jasa dan infrastruktur yang mencatatkan pertumbuhan konsisten sepanjang semester pertama.