SANGIHE — Aktivitas kegempaan Gunung Awu dalam sepekan terakhir menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan catatan Pos Pengamatan Gunung Api Awu pada 1–7 Juli 2026, terekam 116 kali gempa vulkanik dangkal dengan rata-rata 16 kejadian per hari. Angka ini jauh berkurang dibandingkan kondisi pada Mei 2026 lalu.
Selain itu, tercatat 17 kali gempa vulkanik dalam, 445 kali gempa tektonik jauh, dan satu kali gempa terasa dengan skala I MMI. Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyatakan bahwa akumulasi tekanan magma pada kedalaman dangkal juga terpantau berkurang berdasarkan data deformasi dari instrumen tiltmeter.
Hembusan Asap Stabil, Tapi Potensi Erupsi Masih Ada
Hembusan asap dari kawah Gunung Awu terpantau stabil dan tidak melewati puncak gunung. Namun, Badan Geologi mengingatkan bahwa potensi bahaya di kawasan puncak masih tetap ada. Ancaman mencakup erupsi magmatik, erupsi freatik, hingga pembongkaran kubah lava apabila tekanan dalam sistem magmatik kembali meningkat.
"Seiring dengan terjadinya penurunan aktivitas gempa vulkanik secara signifikan," ujar Lana dalam keterangan resmi, Rabu (8/7/2026).
Radius Aman: Warga dan Pendaki Dilarang Masuk Zona 3 Kilometer
Meski status diturunkan, rekomendasi keselamatan tidak berubah. Badan Geologi melarang keras masyarakat, wisatawan, dan pendaki untuk memasuki kawasan dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah aktif Gunung Awu.
"Masyarakat direkomendasikan agar tidak memasuki wilayah dan dilarang keras melakukan aktivitas apa pun dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah aktif Gunung Awu demi menjaga keselamatan," tegas Lana.
Waspada Lonjakan Gempa Mendadak
Badan Geologi juga meminta warga tetap siaga terhadap potensi peningkatan kegempaan secara tiba-tiba, terutama rentetan gempa vulkanik. Meskipun tekanan magma di kedalaman dangkal berkurang, fluktuasi aktivitas gunung api tetap bisa terjadi kapan saja tanpa tanda awal yang panjang.