Pencarian

Harita Nickel Buktikan Baterai Nikel Tak Tergusur LFP: Laba Rp11 Triliun dan Ekspansi yang Moncer

Sabtu, 04 Juli 2026 • 15:11:31 WIB
Harita Nickel Buktikan Baterai Nikel Tak Tergusur LFP: Laba Rp11 Triliun dan Ekspansi yang Moncer
Harita Nickel membukukan laba bersih Rp11 triliun pada 2025 dengan ekspansi bisnis yang signifikan.

SULAWESI UTARA — Dominasi baterai LFP di China—mencakup sekitar 80 persen instalasi kendaraan listrik negara tersebut—memicu kekhawatiran investor. Mereka bertanya, apakah permintaan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan nikel sulfat masih cukup kuat menyerap tambahan kapasitas pabrik HPAL di Indonesia? Pertanyaan ini mengemuka dalam Public Expose Tahunan Harita Nickel akhir Juni 2026 lalu.

Manajemen NCKL menilai persaingan kedua teknologi baterai tidak bisa dipandang hitam-putih. “Kedua jenis baterai tersebut pada dasarnya melayani segmen pasar yang berbeda,” demikian pernyataan perseroan dalam laporan hasil paparan publik yang dikutip Minggu (4/7/2026).

Baterai berbasis nikel, seperti NMC, menjadi andalan kendaraan listrik kelas menengah hingga premium di Eropa dan Amerika Serikat. Pasar ini membutuhkan kapasitas penyimpanan energi besar untuk perjalanan jarak jauh, sementara infrastruktur pengisian daya masih terbatas. Produsen seperti BMW, Mercedes-Benz, Hyundai, Kia, Volkswagen, dan Toyota masih setia menggunakan baterai NMC untuk model listrik jarak tempuh panjang.

Sebaliknya, baterai LFP subur di China berkat jaringan stasiun pengisian yang sangat luas. Dengan begitu, kendaraan berkapasitas baterai lebih kecil tetap bisa beroperasi optimal karena pengisian daya bisa dilakukan lebih sering.

Keunggulan Daur Ulang dan Kinerja Keuangan yang Moncer

Harita Nickel juga menyoroti keunggulan baterai NMC dari sisi keberlanjutan. Tingkat daur ulang baterai NMC disebut lebih tinggi. “Baterai NCM bekas dapat diolah kembali menjadi black mass atau black powder untuk diproses lebih lanjut menjadi nikel sulfat,” jelas perseroan.

Perusahaan bahkan memproyeksikan, dalam 20 hingga 30 tahun mendatang, sebagian kebutuhan nikel untuk industri baterai bisa dipenuhi dari proses daur ulang. Artinya, ketergantungan pada penambangan baru bisa berkurang secara signifikan.

Optimisme ini sejalan dengan ekspansi bisnis yang berbuah manis. Sepanjang 2025, pendapatan Harita Nickel mencapai Rp29,6 triliun, naik 9,9 persen dari Rp27 triliun pada 2024. Laba bersih melesat 42,2 persen menjadi Rp11 triliun. Total aset pun terdongkrak 18,2 persen menjadi Rp61,8 triliun.

Rasio utang terhadap ekuitas (DER) justru turun menjadi 0,20 kali dari sebelumnya 0,30 kali. Ini menandakan leverage perusahaan semakin rendah—kabar baik bagi investor yang khawatir dengan utang besar di sektor tambang.

Volume Penjualan Bijih Nikel Melonjak 28,8 Persen

Kinerja operasional juga menunjukkan tren positif. Volume penjualan bijih nikel sepanjang 2025 mencapai 30,6 juta wet metric ton (WMT), naik 28,8 persen. Penjualan bijih saprolit—bahan baku smelter—melonjak 32 persen menjadi 12,09 juta WMT, didorong selesainya pembangunan smelter PT Karunia Permai Sentosa (KPS) fase pertama dan kedua.

Sementara itu, penjualan bijih limonit naik 26,8 persen menjadi 18,5 juta WMT, sejalan dengan kebutuhan pasokan pabrik HPAL kedua milik PT Obi Nickel Cobalt (ONC) yang telah beroperasi penuh dengan tiga lini produksi.

Untuk menjaga keberlanjutan tambang, Harita Nickel mengklaim memiliki total sumber daya dan cadangan bijih nikel sebesar 310,8 juta WMT berdasarkan data MROR 2025. Rinciannya, 215,1 juta WMT bijih limonit dan 95,7 juta WMT bijih saprolit. Perusahaan kini juga mengoperasikan tiga fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) sebagai bagian dari strategi hilirisasi.

Bagikan
Sumber: kabarbursa.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks