MANADO — Modus operandi sindikat penipuan daring atau scam online terus berevolusi. Pusat kendali operasi kejahatan ini mulai berpindah-pindah lokasi, sementara profil korban yang dibidik pun berubah, kini menyasar kalangan terdidik.
Pusat Operasi Berpindah, Sulit Dilacak
Para pelaku tidak lagi berkantor tetap di satu negara atau kota. Mereka secara berkala memindahkan pusat operasi ke negara lain untuk menghindari jerat hukum. Pola ini membuat aparat penegak hukum kesulitan melacak dan membongkar jaringan secara tuntas.
Pergeseran ini menuntut kerja sama internasional yang lebih erat. Kepolisian dari berbagai negara, termasuk Indonesia, mulai berbagi data intelijen untuk memetakan pergerakan sindikat.
Korban Tak Lagi Awam Teknologi
Ironisnya, target penipuan kini meluas. Jika sebelumnya korban didominasi lansia atau pengguna internet pemula, kini kalangan terdidik dan melek teknologi pun tak luput. Pelaku menggunakan skema yang lebih rumit, seperti investasi bodong berbasis aplikasi atau phishing yang menyamar sebagai layanan resmi.
“Mereka memanfaatkan psikologi korban yang percaya diri dengan pengetahuannya,” ungkap seorang analis keamanan siber dalam keterangan yang diterima redaksi. “Korban justru sering tidak curiga karena merasa sudah paham cara kerja sistem.”
Fakta Singkat Evolusi Scam Online
- Pusat sindikat berpindah secara periodik ke beberapa negara untuk menghindari penangkapan.
- Profil korban bergeser: dari kelompok rentan ke profesional muda dan mahasiswa.
- Modus baru menggunakan deepfake dan rekayasa suara untuk meyakinkan korban.
Waspada, Jangan Mudah Percaya
Masyarakat diminta tetap waspada meski mengaku paham teknologi. Setiap tawaran investasi dengan imbal hasil tidak wajar atau permintaan data pribadi melalui tautan mencurigakan patut dipertanyakan.
Otoritas terus mengimbau agar korban segera melapor ke kantor polisi terdekat atau melalui patroli siber. Semakin cepat laporan masuk, semakin besar peluang mengejar aliran dana sebelum habis dikirim ke luar negeri.