SULAWESI UTARA — Perdebatan sengit mewarnai peluncuran Ferrari Luce EV, mobil listrik pertama dari pabrikan asal Maranello itu. Bukan soal performa atau teknologi baterai, melainkan tampilan luar yang disebut banyak pihak sudah tidak lagi mencerminkan jiwa kuda jingkrak.
Eksterior Dianggap Kehilangan DNA Ferrari
Sejumlah pengamat dan komunitas otomotif global menilai desain eksterior Ferrari Luce EV terlalu berjarak dari bahasa desain yang selama ini melekat. Lekukan agresif khas model bermesin V8 atau V12 disebut memudar, digantikan garis yang lebih mulus dan futuristik.
“Ini bukan Ferrari yang kami kenal,” tulis salah satu akun enthusiast di forum daring. Sentimen serupa muncul di berbagai platform media sosial, menjadikan eksterior sebagai titik lemah paling disorot dari model ini.
Interior Justru Raih Pujian, Sentuhan Premium Dipertahankan
Sisi lain cerita justru datang dari kabin. Interior Ferrari Luce EV mendapat apresiasi luas karena material dan tata letak yang dinilai masih mempertahankan standar kemewahan khas pabrikan Italia tersebut. Kombinasi kulit jahitan tangan, finishing aluminium, dan layar digital terintegrasi disebut sebagai salah satu yang terbaik di segmen EV premium.
“Duduk di dalamnya masih terasa seperti Ferrari. Mewah, eksklusif, dan ergonomis,” komentar salah satu reviewer yang telah melihat langsung unit tersebut.
Kontras Desain, Pertaruhan Identitas di Era Elektrifikasi
Perbedaan respons antara eksterior dan interior Ferrari Luce EV menjadi cerminan dilema yang dihadapi banyak pabrikan supercar saat bertransisi ke elektrifikasi. Di satu sisi, mereka harus tampil beda dan futuristik untuk menandai era baru. Di sisi lain, penggemar setia masih menuntut identitas visual yang sudah puluhan tahun dibangun.
Ferrari sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas kritik yang beredar. Namun, keputusan desain yang berani ini jelas menjadi ujian besar bagi loyalitas basis penggemar mereka di era mobil listrik.