SULAWESI UTARA — Semua berawal dari kota Yakutsk, Siberia, ketika perusahaan taksi lokal menaikkan tarif secara sepihak di tengah cuaca beku ekstrem. Sekelompok mahasiswa merespons dengan membuat grup media sosial bernama "Independent Drivers" — wadah bagi sopir dan penumpang untuk bertemu langsung tanpa perantara mesin penetap harga.
Gagasan itu tumbuh menjadi aplikasi yang kini hadir di lebih dari 700 kota di dunia, termasuk Indonesia. Di pasar lokal, model "Real-Time Deals" ini dinilai cocok dengan kebiasaan masyarakat yang terbiasa menawar.
Cara Kerja: Penumpang Tawar, Sopir Putuskan
Berbeda dengan aplikasi lain yang mematok harga mutlak, di inDrive penumpang memasukkan destinasi lalu mengajukan nominal yang dianggap wajar. Sopir punya tiga opsi: menerima, menolak, atau mengajukan harga balik.
Setelah beberapa sopir merespons, penumpang bisa memilih berdasarkan harga, rating pengemudi, jenis kendaraan, atau jarak kedatangan. Tidak ada kenaikan mendadak akibat hujan atau jam sibuk — harga yang disepakati di awal adalah harga final.
Bagi Sopir: Komisi Lebih Ringan, Otonomi Lebih Besar
Keuntungan juga dirasakan mitra pengemudi. Jika kompetitor memotong 20 hingga 25 persen dari tarif penumpang, inDrive hanya mengambil komisi 10 hingga 15 persen. Artinya, pendapatan bersih sopir lebih besar meskipun tarif yang disepakati mungkin lebih rendah dari harga pasar.
Sopir juga tidak dipaksa menerima orderan yang lokasinya terlalu jauh atau nominalnya terlalu kecil. Mereka tetap punya kendali penuh atas keputusan kerja.
Keamanan dan Transparansi Jadi Jaminan
Meskipun mengedepankan negosiasi, fitur keamanan tidak dikesampingkan. Pengguna bisa membagikan lokasi perjalanan secara langsung ke keluarga atau teman. Tidak ada biaya tersembunyi — angka yang muncul saat kesepakatan adalah angka yang dibayar.
Proses tawar-menawar juga menciptakan interaksi yang lebih personal antara penumpang dan sopir, sesuatu yang jarang ditemukan di platform lain yang serba otomatis.
Dengan pendekatan yang mengembalikan otoritas ke tangan manusia, inDrive membuktikan bahwa model bisnis berbasis negosiasi masih relevan di era algoritma. Pertanyaannya kini: akankah pemain besar lain mengikuti jejak serupa?