MANADO — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Utara terus memperkuat ketahanan pangan daerah dengan program pemberdayaan petani dan pelaku UMKM. Sepanjang 2020 hingga 2025, tercatat 84 petani unggulan dan 144 UMKM unggulan telah menjadi binaan BI pada berbagai komoditas strategis.
Kepala BI Perwakilan Sulut Joko Supratikto di Manado, Sabtu, mengatakan program tersebut bernama Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA) dan Wirausaha Unggulan Sulawesi Utara (WANUA).
"Sejalan dengan upaya penguatan ketahanan pangan dan pengendalian harga, BI Sulut berperan aktif untuk pemberdayaan petani dan UMKM," kata Joko.
Boltim Jadi Basis Petani Cabai Rawit
Enam petani unggulan binaan BI berasal dari Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Mereka adalah Poktan Sinar Onggole, Abdul Kader Alhabsy, Poktan Luak Permai, Poktan Blessing, Poktan Puharapen, dan Poktan Matuari.
Lima dari enam poktan tersebut berfokus pada budidaya pangan strategis, khususnya cabai rawit. Jumlah ini menempatkan Boltim di posisi keempat sebagai kabupaten/kota dengan jumlah PATUA terbanyak se-Sulawesi Utara.
Intervensi BI dari Hulu ke Hilir
Upaya pengendalian inflasi pangan di Boltim dilakukan melalui inisiatif dari hulu hingga hilir. Fokusnya pada penguatan kapasitas, kelembagaan, serta perluasan akses pasar dan keuangan bagi enam petani unggulan tersebut.
Pada 2026, program ini diperluas dan diperdalam. Penguatan kapasitas dilakukan melalui Mindpreneneur Bootcamp PATUA untuk mengembangkan pola pikir adaptif dan inovatif para petani.
Pelatihan Iklim dan Pupuk Organik
Pelatihan PATUA Tahap I kini dirangkaikan dengan pelatihan terkait iklim oleh BMKG. Tujuannya mengoptimalisasi produksi pertanian melalui metode tanam paling efisien dan waktu tanam paling optimal.
Pelatihan dilanjutkan dengan Pendampingan Sekolah Lapang yang tahun ini dilaksanakan di salah satu demplot PATUA. Pendampingan tersebut juga mengedukasi petani cara pembuatan Pupuk Organik Cair untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman secara berkelanjutan.
Alsintan dan Akses Pembiayaan Formal
Penguatan basis kapasitas produksi di Boltim juga dilakukan lewat penyaluran alat mesin pertanian (Alsintan) dan sarana produksi (Saprodi). Bantuan berupa alkon, hand tractor, sprayer, bibit, pupuk, serta pengendalian hama diberikan kepada Poktan Matuari yang fokus pada budidaya cabai rawit.
Perluasan akses keuangan dilanjutkan melalui pelatihan Sistem Aplikasi Pencatatan Keuangan (SIAPIK). Langkah ini bertujuan meningkatkan kapasitas pembiayaan formal para petani binaan.