MANADO — Balitbangda Sulut membuka lima desk layanan khusus dalam Desk Pengimputan Data Inovasi Daerah 2026 yang digelar di Kantor Balitbangda, Jalan 17 Agustus, Teling Atas, Manado, Kamis (21/5/2026). Langkah ini disebut sebagai terobosan untuk mempercepat validasi data sekaligus mendongkrak Indeks Inovasi Daerah (IID) Sulawesi Utara.
Kepala Balitbangda Sulut, Jani N. Lukas, mengatakan kegiatan ini merupakan pertemuan lanjutan dari program sebelumnya. Ia menegaskan bahwa setiap perangkat daerah wajib mengutus operator untuk melakukan pengimputan data inovasi masing-masing.
“Sesuai dengan Instruksi Pak Gubernur, setiap perangkat daerah wajib mengutus perwakilan untuk pengimputan, dan internal kita ada lima desk yang melayani. Hal ini adalah terobosan kami dalam membantu Pak Gubernur dalam upaya menaikan Indeks Inovasi Daerah,” ujar Lukas.
Lima Desk Khusus untuk Validasi Data Inovasi
Lima desk yang disiapkan Balitbangda melayani pendampingan teknis dan validasi data secara langsung. Peserta yang hadir merupakan perwakilan atau operator dari seluruh OPD, termasuk sekolah dan rumah sakit di bawah naungan Pemprov Sulut.
Setiap instansi diwajibkan menyiapkan dua inovasi untuk dimasukkan ke dalam sistem IID. Pendampingan teknis ini bertujuan memastikan data yang diinput sesuai format dan dapat diverifikasi oleh pemerintah pusat.
Mengapa Inovasi Daerah Penting bagi Sulut?
Menurut Lukas, peningkatan inovasi di daerah berdampak langsung pada efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan. Ia menyebut bahwa hasilnya akan dirasakan masyarakat dalam bentuk peningkatan kesejahteraan, terbukanya peluang ekonomi baru, serta meningkatnya daya saing daerah.
“Karena dengan adanya peningkatan inovasi di daerah, maka kinerja penyelenggaraan pemerintahan akan jauh lebih efektif dan efisien. Hal ini akan memberikan dampak langsung ke masyarakat,” pungkasnya.
Target Indeks Inovasi Daerah 2026
Pemprov Sulut menargetkan kenaikan signifikan pada Indeks Inovasi Daerah 2026. Dengan sistem lima desk ini, Balitbangda berharap tidak ada lagi OPD yang tertinggal dalam pengimputan data, sehingga skor inovasi Sulut bisa bersaing di tingkat nasional.
Kegiatan ini juga menjadi ajang konsolidasi data inovasi dari berbagai sektor—mulai dari pemerintahan, pendidikan, hingga layanan kesehatan—agar seluruh potensi inovasi di Sulut tercatat secara sistematis.