MANADO — Gempa dahsyat berkekuatan 7,7 magnitudo yang berpusat di Mindanao, Filipina, Senin (8/6) pagi, memicu kerusakan parah di sejumlah wilayah Sulawesi Utara. Rumah-rumah warga di Pulau Marore, Kepulauan Sangihe, dilaporkan ambruk dan mengalami kerusakan struktural yang signifikan. Pemerintah Provinsi Sulut melalui BPBD langsung mengerahkan tim untuk melakukan evakuasi dan pendataan.
Guncangan gempa yang terasa kuat di kawasan pesisir utara Sulut itu memaksa warga berhamburan keluar rumah. Foto-foto yang diterima dari lokasi kejadian menunjukkan bangunan rumah warga retak berat hingga runtuh sebagian. Belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa, namun proses evakuasi masih terus dilakukan.
Evakuasi Warga dan Imbauan Waspada Tsunami
Sekretaris BPBD Sulut, Jerry Hamonsia, menyatakan pihaknya masih melakukan pendataan di lapangan. "Saat ini masih terus dilakukan pendataan terhadap wilayah yang terdampak. Namun, di Pulau Marore terdapat beberapa rumah warga yang ambruk," kata Jerry kepada kumparan.
Warga yang rumahnya rusak kini dievakuasi sementara ke tempat yang lebih aman. Sebelumnya, sejumlah daerah di Sulawesi Utara sempat berstatus siaga tsunami pasca-gempa. BPBD mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir, untuk tidak panik dan tetap waspada terhadap gempa susulan.
"Tetap tenang dan jauhi pesisir. Hati-hati dengan gempa susulan," ujar Jerry menambahkan.
Pemprov Sulut Koordinasi Evakuasi Menyeluruh
Pemerintah Provinsi Sulut melalui BPBD telah menginstruksikan pemerintah kabupaten dan kota yang berpotensi terdampak untuk segera mengarahkan warganya menjauh dari tepi pantai. Koordinasi lintas daerah dilakukan untuk memastikan evakuasi berjalan cepat dan menyeluruh.
"Kami telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota yang berada pada status 'Awas' untuk segera mengarahkan masyarakat melakukan evakuasi menyeluruh," kata Jerry. Tim BPBD masih berada di lapangan untuk mendata jumlah pasti rumah yang rusak serta memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi.