JAKARTA — Pasar komoditas sawit Indonesia mendapat pukulan ganda pada Selasa ini. Di saat nilai tukar rupiah ambrol ke titik terlemahnya di Rp17.500 per dolar AS, harga CPO justru terkoreksi signifikan. Data dari tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) mencatat, harga CPO (exclude PPN) untuk penyerahan Franco Belawan dan Dumai ditutup di Rp15.150 per kilogram.
Angka tersebut lebih rendah Rp175/kg dibandingkan perdagangan Senin kemarin yang masih bertengger di Rp15.325 per kilogram. Kondisi ini menjadi ironi bagi petani dan pengusaha sawit, yang biasanya berharap pelemahan rupiah bisa mendongkrak harga jual ekspor.
Tekanan Rupiah: Kombinasi Konflik Global dan Kebutuhan Valas Musiman
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan bahwa anjloknya rupiah bukan tanpa sebab. Dari sisi eksternal, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian global.
“Meningkatnya intensitas konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak dan ketidakpastian global, yang berdampak langsung pada tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujar Destry dalam pernyataan tertulisnya.
Dari dalam negeri, tekanan bertambah akibat lonjakan permintaan valuta asing (valas) secara musiman. BI mencatat kebutuhan dolar AS membengkak untuk pembayaran utang luar negeri (ULN), dividen, hingga pemenuhan dana ibadah haji.
Pasar Malaysia Ikut Lesu, Permintaan Fisik Masih Menggantung
Penurunan harga CPO juga terlihat di bursa acuan regional. Kontrak CPO pengiriman Juli di Bursa Malaysia Derivatives dibuka turun 20 ringgit atau 0,44% menjadi 4.496 ringgit per ton. Analis Interband Group of Companies, Jim Teh, memperkirakan harga CPO akan bergerak dalam rentang RM4.200 hingga RM4.300 dalam waktu dekat.
Menariknya, di tengah tekanan harga, permintaan fisik justru diperkirakan datang dari sejumlah negara besar. “Permintaan fisik untuk komoditas ini diperkirakan akan datang dari China, Pakistan, India, dan mungkin beberapa negara di Timur Tengah untuk melakukan peningkatan stok di tengah krisis Asia Barat,” kata Jim Teh kepada Bernama.
Apa Dampaknya bagi Petani Sawit Indonesia?
Koreksi harga CPO di level Rp15.150/kg jelas memangkas margin petani swadaya dan perusahaan perkebunan. Biaya produksi yang dibayar dalam rupiah—seperti pupuk, tenaga kerja, dan transportasi—tidak otomatis turun meski harga jual melemah. Sementara itu, pelemahan rupiah memang menguntungkan eksportir dalam jangka pendek, tetapi jika harga patokan global terus turun, keuntungan itu bisa tergerus.
Pelaku pasar kini mencermati langkah BI dalam menstabilkan kurs dan perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Jika tekanan terhadap rupiah berlanjut, bukan tidak mungkin harga CPO domestik akan kembali tertekan pada perdagangan pekan ini.