SULAWESI UTARA — Angka itu bukan sekadar statistik. Bagi pelaku UMKM yang terlibat, empat hari festival berarti ruang bertemu pembeli dari luar daerah, memperluas pasar, dan memperkenalkan produk ke khalayak yang lebih luas.
ACF 2026 menghadirkan lebih dari 100 pelaku UMKM kuliner yang mewakili 12 kabupaten/kota di Aceh. Festival ini juga melibatkan lebih dari 20 komunitas dan inisiatif kreatif dari Aceh, Jakarta, dan Bali.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Dedy Yuswadi menyebut capaian tersebut lahir dari kolaborasi lintas pihak, mulai dari Kementerian Pariwisata, Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten/kota, Kementerian Kebudayaan, komunitas, hingga pelaku UMKM.
"Keberlanjutan ACF tidak hanya penting untuk memperkenalkan ragam kuliner Aceh kepada wisatawan, tetapi juga membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas pasar," ujar Dedy.
ACF telah empat kali masuk dalam jajaran 10 besar Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Posisi itu menempatkan festival kuliner Aceh sejajar dengan event-event pariwisata unggulan nasional lainnya.
Data Kementerian Pariwisata menunjukkan 110 kegiatan yang tergabung dalam KEN sepanjang 2025 menghasilkan perputaran ekonomi lebih dari Rp17 triliun. Angka tersebut tumbuh 25,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Rangkaian KEN 2025 juga mencatat 10,8 juta pengunjung serta melibatkan sekitar 108.500 tenaga kerja, 105.700 pelaku seni, 15.400 pengusaha UMKM, dan 4.900 komunitas.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menilai cita rasa kuliner Aceh yang kuat perlu dibarengi narasi yang mengangkat sejarah, budaya, dan kisah di balik setiap hidangan. Pemerintah daerah dan pelaku pariwisata diminta memperkuat storytelling tersebut.
"Kita harus kuatkan storytelling dari kuliner-kuliner Aceh sehingga kita tidak hanya merasakan enaknya saja, tetapi, kita tahu cerita di baliknya," kata Ni Luh saat menghadiri penutupan ACF 2026.
Menurut dia, gastronomi tidak berhenti pada persoalan rasa. Dalam sebuah hidangan terdapat perjalanan panjang yang berkaitan dengan budaya, tradisi, sejarah, bahan pangan, hingga kehidupan masyarakat yang melahirkannya.
"Jadi, kuliner bukan hanya soal makanan, tetapi juga soal cerita, budaya, dan kehidupan masyarakat yang ada di balik makanan tersebut," ujarnya.
Ni Luh berharap ACF dapat memperkuat program Wonderful Indonesia Gourmet (WIG) yang diinisiasi Kementerian Pariwisata. Program ini mengembangkan kekayaan gastronomi Nusantara sebagai daya tarik wisata.
Festival kuliner, menurut dia, tidak semestinya hanya menjadi ruang hiburan atau perayaan budaya. Kegiatan tersebut harus menciptakan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat, terutama melalui peningkatan transaksi UMKM, pembukaan lapangan kerja, dan tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitar destinasi.
Dengan penguatan storytelling dan kolaborasi lintas sektor, kuliner Aceh diharapkan tidak hanya dikenal karena cita rasanya yang khas, tetapi juga karena cerita, sejarah, dan identitas budaya yang melekat di setiap hidangan.