SULAWESI UTARA — MotoGP akan mulai memakai radio komunikasi pada musim 2027. Bukan sekadar meniru F1, sistem ini dirancang dengan pendekatan berbeda karena pebalap motor tidak duduk di dalam kokpit tertutup seperti pebalap mobil.
Senior Director of Media Production Technology MotoGP, Sergi Sendra, mengungkap detail teknisnya dalam wawancara dengan Speedweek, dikutip Kamis (10/9). Perbedaan paling mencolok ada pada cara koneksi audio dipertahankan.
Di F1, komunikasi radio langsung terputus begitu pebalap keluar dari mobil. Di MotoGP, koneksi itu tetap hidup.
"Pebalap akan bisa mendengar dan berbicara di mana pun mereka berada. Itu akan menjadi perubahan besar dan juga menarik dari perspektif strategi," ujar Sendra.
Artinya, komunikasi tidak lagi terbatas saat pebalap masih di atas sadel. Race Direction tetap bisa menjangkau pebalap di pit lane, area parc ferme, atau bahkan saat insiden terjadi setelah pebalap terlempar dari motor.
Konsekuensi teknisnya tidak kecil. Pebalap harus membawa perangkat tambahan dengan bobot maksimal sekitar 200 gram, ditempatkan di helm dan baju balap.
MotoGP juga memakai dua mikrofon sekaligus: satu di dalam helm, satu lagi di baju balap. Mikrofon di baju balap akan dinonaktifkan begitu helm dipasang, karena jarak antara kedua mikrofon berpotensi mengganggu kualitas suara.
F1 punya solusi lebih sederhana untuk menjaga mikrofon tetap dekat mulut pebalap, yakni balaclava atau penutup kepala. Cara itu sulit diterapkan di MotoGP.
Sendra bahkan pernah melihat seorang pebalap muntah-muntah saat mengenakan balaclava di lintasan. Pengalaman itu jadi salah satu alasan pendekatan F1 tidak bisa dipindahkan begitu saja.
Faktor lain yang membuat pengembangan sistem ini rumit adalah angin. Di dalam helm pebalap, kondisi angin jauh lebih ekstrem dibanding kokpit mobil.
"Angin di dalam helm pebalap sangat brutal," tutur Sendra.
MotoGP sudah melakukan pengujian, salah satunya bersama Fabio Quartararo. Hasilnya, kualitas suara belum sempurna, tetapi masih bisa dipahami.
"Ini tantangan yang menarik untuk terus kami kembangkan," kata Sendra.
Perbedaan tidak berhenti di hardware. Secara fungsi, radio di F1 dipakai pebalap untuk berdiskusi strategi dengan tim selama balapan berlangsung.
Di MotoGP, cakupannya lebih terbatas. Radio komunikasi ditujukan agar pebalap terhubung dengan Race Direction dalam kondisi tertentu, bukan sebagai kanal obrolan strategi bebas.
Kebutuhan F1 dan MotoGP memang berbeda sejak awal. F1 lebih dulu punya sistem komunikasi yang terintegrasi dengan mobil dan helm, sementara MotoGP harus menghadapi tantangan tambahan seperti angin, posisi mikrofon, dan bobot perangkat.
Teknologi ini masih terus dikembangkan sebelum digunakan secara resmi dalam balapan MotoGP pada 2027. Kalau berhasil, komunikasi dua arah antara pebalap dan Race Direction bisa mengubah cara insiden dan keputusan balapan ditangani di lintasan.