MANADO — Henly Awumbas dan Gianita Mait memimpin langsung aksi pengajaran di Komunitas Dinding, Manado, bersama jajaran Ikatan Putera Puteri Sulawesi Utara (PPS). Program ini tidak sekadar seremonial, melainkan bentuk komitmen nyata wadah generasi muda berprestasi itu di bidang sosial dan kemanusiaan.
Komunitas Dinding dikenal sebagai ruang belajar alternatif bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di pinggiran Manado. Kehadiran PPS di lokasi tersebut menjadi angin segar bagi puluhan anak yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan formal secara optimal.
Henly Awumbas menyebut bahwa komunitas ini dipilih karena kebutuhan mendesak akan pendampingan belajar. "Anak-anak di sini punya semangat tinggi, tapi keterbatasan akses membuat mereka tertinggal secara akademik," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.
Gianita Mait menambahkan bahwa PPS tidak ingin sekadar datang lalu pergi. "Kami ingin membangun kedekatan dan memberikan motivasi jangka panjang," katanya. Program ini mencakup bimbingan membaca, berhitung, hingga pengenalan budaya lokal Sulawesi Utara.
Jajaran pengurus PPS bergantian menjadi pengajar. Materi disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak-anak di Komunitas Dinding, mulai dari calistung dasar hingga diskusi ringan tentang cita-cita. Suasana belajar dibuat santai agar anak-anak tidak merasa tertekan.
Selain Henly dan Gianita, sejumlah anggota PPS lainnya ikut serta. Mereka berasal dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari mahasiswa hingga pekerja profesional yang pulang kampung untuk berkontribusi.
Program ini direncanakan berlanjut secara berkala. PPS membuka peluang bagi anggota lain untuk bergabung di sesi selanjutnya. "Kami ingin gerakan ini terus tumbuh, bukan hanya di Manado tapi juga di daerah lain di Sulut," ujar Henly.
Tidak ada target muluk atau angka yang dipaksakan. Yang jelas, bagi anak-anak Komunitas Dinding, kehadiran kakak-kakak dari PPS adalah bukti bahwa ada orang yang peduli di luar sana.