SULAWESI UTARA — Percepatan pembangunan huntap menjadi prioritas utama pemerintah pascapenuntasan hunian sementara (huntara) bagi penyintas bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Total target pembangunan huntap mencapai 39.217 unit yang akan didistribusikan di tiga provinsi tersebut. Hingga pertengahan Juni 2026, capaian fisik menunjukkan 406 unit sudah selesai dan 1.091 unit masih dalam proses konstruksi.
Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan kebutuhan huntap terbesar, mencapai 28.910 unit. Dari jumlah itu, 722 unit sedang dibangun dan 157 unit telah selesai. Sementara itu, Sumatera Utara menargetkan 7.483 unit dengan realisasi 312 unit dalam pembangunan dan 227 unit rampung. Sumatera Barat mencatat kebutuhan 2.824 unit, namun baru 57 unit yang mulai dikerjakan.
Kepala BPBD Pidie Jaya, Okta Handipa, mengungkapkan bahwa proses verifikasi data calon penerima huntap di wilayahnya tengah berjalan. Menurutnya, data awal masyarakat sudah tersedia, namun masih ada pergeseran preferensi warga antara skema in-situ (membangun di lokasi asal) dan skema komunal (terpusat).
“Huntap sedang verifikasi kembali data. Data masyarakat sebenarnya sudah ada, tetapi masih ada warga yang ingin berpindah dari skema in-situ ke terpusat (komunal) maupun sebaliknya,” jelasnya, Senin (8/6/2026). Okta menambahkan, pemerintah daerah kini tengah menyiapkan surat keputusan (SK) terbaru sebagai dasar pengajuan pembangunan ke Satgas PRR.
Sebagai langkah awal, pembangunan huntap percontohan telah dilakukan di Kecamatan Meurah Dua, Meureudu, dan Pantee Raja. Model ini menjadi patokan sebelum pembangunan massal direalisasikan di titik-titik lain. Satgas PRR mengawal proses ini bersama seluruh pemangku kepentingan agar rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan sesuai tahapan.
Pemerintah menargetkan seluruh proses validasi data dan pembangunan huntap rampung sesuai jadwal pemulihan jangka panjang. Kepastian tempat tinggal bagi penyintas menjadi kunci utama agar proses pemulihan sosial dan ekonomi pascabencana berjalan berkelanjutan.