BITUNG — Pelatihan yang menyasar siswa SMA Negeri 2 Bitung ini menghadirkan tiga wartawan sebagai narasumber, yakni Yoseph E. Ikanubun, Dion Lande, dan Harto Marentek. Materi disusun bertahap, mulai dari definisi, sejarah, hingga fungsi pers dan jurnalistik.
Peserta juga menerima pembekalan soal etika wawancara, teknik wawancara, dan formula dasar penulisan berita 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, How). Sesi teori tak berhenti di ruang kelas.
Mengapa Siswa Perlu Paham Jurnalistik Sejak Sekolah
Maxy Awondatu menilai kemampuan menyaring informasi menjadi alasan utama pelatihan ini digelar. Menurut dia, siswa perlu membekali diri agar tidak mudah terpapar berita bohong.
"Pelatihan ini sangat penting bagi siswa agar siswa tidak langsung mengonsumsi berita hoaks yang muncul di media sosial dengan mentah-mentah melainkan menyaringnya terlebih dahulu," ujarnya.
Pernyataan itu menyoroti persoalan yang kerap muncul di ruang digital. Arus informasi di media sosial bergerak cepat, sementara kemampuan verifikasi pelajar belum tentu sepadan.
Simulasi Wawancara dan Menulis Berita Jadi Tantangan Peserta
Setelah menerima materi, ke-52 siswa ditantang melakukan simulasi wawancara. Mereka kemudian diminta menulis berita tentang kegiatan pelatihan jurnalistik yang baru saja mereka ikuti.
Latihan itu menggabungkan teori dan praktik dalam satu sesi. Peserta tidak hanya mendengar penjelasan narasumber, tetapi langsung mencoba menerapkan teknik yang dipaparkan.
Yoseph E. Ikanubun berharap pelatihan ini berlanjut ke ajang kompetisi. Ia mendorong siswa yang telah mengikuti kegiatan untuk mencoba peruntungan di lomba tingkat daerah maupun nasional.
"Diharapkan kepada siswa-siswa yang telah mengikuti kegiatan dapat mengikuti lomba seperti FLS3N dan mewakili Sulawesi Utara melaju ke jenjang nasional," ujar Ikanubun.
Bekal untuk Lomba hingga Jenjang Nasional
Pelatihan jurnalistik di SMA Negeri 2 Bitung menjadi salah satu jalur pembinaan siswa di luar kelas. Kegiatan semacam ini memberi ruang bagi pelajar yang tertarik pada dunia tulis-menulis dan peliputan.
Dengan 52 peserta yang terlibat, sekolah berharap muncul bibit jurnalis muda dari Bitung. Tim JPS sendiri terdiri dari wartawan aktif yang membawa pengalaman lapangan ke ruang pelatihan.
Materi yang diberikan mencakup dasar-dasar yang biasa dipakai wartawan dalam bekerja sehari-hari. Mulai dari memahami fungsi pers, menjaga etika saat wawancara, sampai menyusun berita dengan struktur yang benar.