Pencarian

Data APJII 2025: Baru 27 Persen Masyarakat Indonesia Pakai AI, Generasi Muda Dominasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 • 13:03:02 WIB
Data APJII 2025: Baru 27 Persen Masyarakat Indonesia Pakai AI, Generasi Muda Dominasi
Petugas menunjukkan data tingkat adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia yang baru mencapai 27 persen pada 2025.

SULAWESI UTARA — Riuhnya perbincangan tentang kecerdasan buatan di media sosial Indonesia ternyata berbanding terbalik dengan realitas adopsi di lapangan. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat baru sekitar 27 persen masyarakat yang benar-benar menggunakan aplikasi AI pada 2025. Artinya, dari total pengguna internet di dalam negeri, mayoritas masih berstatus penonton, bukan pemain.

Data ini sekaligus mematahkan asumsi bahwa AI telah menjadi bagian dari keseharian publik. Topik soal ChatGPT, Gemini, hingga pembuat gambar otomatis memang viral di linimasa, tetapi penetrasi riilnya masih timpang. Jurang antara "topik hangat" dan "kebiasaan harian" ini menjadi catatan penting bagi ekosistem startup dan pelaku industri digital.

Pengguna Aktif Justru Makin Boros Belanja Fitur AI

Kelompok yang sudah terlanjur memakai AI menunjukkan perilaku yang berbeda. Laporan Sensor Tower yang diolah Databoks mencatat total waktu yang dihabiskan pengguna Indonesia untuk aplikasi AI generatif di iOS dan Google Play terus meningkat sepanjang 2025. Pendapatan dari pembelian dalam aplikasi (in-app purchase) bahkan melonjak hingga 151 persen secara tahunan.

Angka ini menandakan pergeseran perilaku: pengguna tidak lagi sekadar mencoba-coba versi gratis. Mereka mulai membayar untuk fitur premium, entah untuk kecepatan respons, kapabilitas model yang lebih besar, atau akses eksklusif. Indonesia sendiri masuk jajaran 15 negara dengan jumlah pengguna ChatGPT tertinggi di dunia pada 2025.

Gen Z dan Milenial Jadi Mesin Utama Pertumbuhan

Generasi muda mendominasi basis pengguna teknologi ini secara global, dan Indonesia tidak terkecuali. Survei "Indonesia AI Report 2025" yang melibatkan 1.000 responden dari kalangan Gen Z dan Milenial menemukan bahwa 80 persen di antaranya menggunakan AI untuk mencari informasi dan meringkas jawaban. Lebih dari separuh responden juga memakai AI untuk komunikasi, membantu pekerjaan, hingga hiburan.

Temuan ini sejalan dengan pola konsumsi media sosial yang masih didominasi TikTok. AI generatif kini mulai menyatu dengan kebiasaan harian anak muda, mulai dari membuat caption otomatis, mengedit konten, sampai mencari ide unggahan. Alih-alih menjadi alat terpisah, AI justru berjalin dengan ekosistem media sosial yang sudah ada.

Peluang Ekonomi vs Ketakutan Akan Lapangan Kerja

Di satu sisi, kemudahan akses AI membuka efisiensi besar bagi pekerja dan mahasiswa. Microsoft mencatat pekerja Indonesia semakin banyak memanfaatkan AI karena fiturnya yang praktis. Namun di sisi lain, publik menyimpan kekhawatiran serius soal penyalahgunaan teknologi dan dampaknya terhadap lapangan kerja—dua isu yang kerap disebut sebagai kecemasan utama masyarakat Indonesia.

Kesenjangan digital juga masih menjadi hambatan struktural. Ketika sebagian kecil masyarakat di Pulau Jawa sudah sangat bergantung pada AI, mayoritas di luar wilayah tersebut belum tersentuh sama sekali. Kondisi ini berpotensi memperlebar jurang ekonomi digital antara kelompok yang melek teknologi dan yang tertinggal.

Kampus dan Dunia Pendidikan Menghadapi Tantangan Baru

Fenomena ini memaksa institusi pendidikan mengambil sikap. Ketergantungan mahasiswa pada AI untuk meringkas bacaan atau menyusun tugas berisiko mengikis kemampuan berpikir kritis jika tidak diimbangi literasi digital yang mumpuni. Kampus dituntut merumuskan pedoman etis penggunaan AI dalam proses akademik, bukan sekadar melarang atau membiarkan.

Pada akhirnya, gelombang AI di Indonesia masih berada di fase awal: antusiasme besar, tetapi pemerataan belum terjadi. Teknologi secanggih apa pun tetap bergantung pada cara manusia menggunakannya. AI bisa menjadi alat bantu produktivitas, atau justru melumpuhkan daya nalar jika dipakai tanpa kesadaran. Mendorong pemerataan akses dan literasi menjadi kunci agar manfaat teknologi ini tidak dinikmati segelintir kelompok saja.

Follow kabarsulut.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kompasiana.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks