SULAWESI UTARA — Kepercayaan diri tinggi dibawa Norwegia sejak fase grup. Skuad asuhan Ståle Solbakken membuka turnamen dengan kemenangan telak 4-1 atas Irak, sebelum menundukkan Senegal lewat duel sengit 3-2. Satu-satunya noda di penyisihan adalah kekalahan 1-4 dari Prancis, namun hasil itu tak menghalangi langkah mereka sebagai runner-up Grup I.
Haaland dan Generasi Emas Ukir Sejarah Baru
Konsistensi di babak gugur menjadi pembeda. Norwegia mampu bersaing melawan tim-tim kuat dan akhirnya menembus perempat final—sebuah capaian yang belum pernah mereka raih sepanjang sejarah keikutsertaan di Piala Dunia.
Erling Haaland tampil sebagai motor serangan utama. Kontribusinya di lini depan menjadi sorotan, tetapi yang lebih penting, permainan kolektif Norwegia terbukti kompetitif melawan lawan-lawan yang secara peringkat lebih unggul. Inilah fondasi yang membuat mereka layak naik ke peringkat 19 dunia.
Ghana dan Paraguay Juga Panen Poin
Norwegia bukan satu-satunya tim yang diuntungkan oleh sistem peringkat FIFA pasca-turnamen. Ghana mencatatkan kenaikan delapan posisi untuk duduk di peringkat 65, sementara Paraguay melesat tujuh anak tangga ke posisi 34.
Lonjakan Paraguay terasa spesial. Mereka mencapai babak 16 besar setelah meraih kemenangan bersejarah atas Jerman di babak 32 besar—sebuah hasil yang memberikan dampak besar terhadap akumulasi poin mereka.
Piala Dunia 48 Tim Ubah Peta Kekuatan
Perubahan drastis dalam daftar peringkat FIFA ini menunjukkan besarnya pengaruh performa di turnamen utama. Kemenangan atas tim berperingkat tinggi, terutama di babak sistem gugur, memberikan tambahan poin signifikan yang sulit didapat lewat laga persahabatan atau kualifikasi.
Dengan format baru 48 negara, peluang tim-tim non-unggulan untuk mencuri poin dari raksasa Eropa dan Amerika Selatan semakin terbuka. Norwegia, Ghana, dan Paraguay adalah bukti nyata bagaimana satu turnamen yang baik bisa mengubah status sebuah tim nasional dalam hitungan pekan.