Pencarian

Pertamina Hulu Energi Genjot Produksi Migas: Seismik 3D Mamuju Rampung, Injeksi Polimer Perdana di Lepas Pantai

Senin, 17 Agustus 2026 • 22:46:32 WIB
Pertamina Hulu Energi Genjot Produksi Migas: Seismik 3D Mamuju Rampung, Injeksi Polimer Perdana di Lepas Pantai
Seismik 3D Mamuju seluas 2.500 km² rampung lebih cepat dari jadwal dengan catatan nol kecelakaan kerja.

SULAWESI UTARA — Subholding Upstream Pertamina menutup semester pertama 2026 dengan deretan proyek strategis yang menyentuh dua sisi bisnis sekaligus: mencari cadangan baru dan menguras minyak tersisa dari sumur-sumur tua. Dari hulu ke hilir, seluruh anak usaha PHE bergerak bersamaan untuk memastikan produksi migas nasional tidak melorot di tengah tantangan lapangan yang semakin menua.

Seismik 3D Mamuju: 2.500 Km² Selesai Lebih Cepat, Nol Kecelakaan

Salah satu pekerjaan rumah terbesar PHE adalah memetakan struktur bawah laut di cekungan South Kutai Basin. Hasilnya, akuisisi data seismik offshore di perairan Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, rampung lebih cepat dari jadwal. Proyek yang merupakan bagian dari Komitmen Kerja Pasti Jambi Merang (KKPJM) ini menggarap area seluas 2.500 km² menggunakan teknologi broadband marine streamer.

PHE menggandeng PT Elnusa Tbk sebagai mitra pelaksana. Teknologi ini dipilih untuk membaca lapisan batuan bawah permukaan secara lebih presisi, sehingga peluang menemukan cadangan migas baru meningkat. Yang menarik, proyek ini mencatatkan rekor zero accident atau nol kecelakaan kerja, sebuah standar yang jarang dicapai dalam operasi seismik lepas pantai.

Corporate Secretary PHE, Hermansyah Y Nasroen, menyebut keberhasilan ini sebagai bukti komitmen perusahaan menghadirkan kinerja eksplorasi yang unggul dan aman. "Sehingga capaian tersebut dipersembahkan sebagai kado istimewa bagi Indonesia pada peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81," ujarnya, Senin (17/8). Dukungan penuh dari Pemkab Mamuju dan Pemprov Sulawesi Barat menjadi kunci kelancaran proyek ini.

Injeksi Polimer di Lepas Pantai: Pertama di Indonesia, Target Produksi 2030

Jika eksplorasi berfokus pada menemukan sumber baru, maka di sisi produksi PHE mencoba teknologi mutakhir untuk memeras sumur tua. Anak usahanya, PT Pertamina Hulu Energi OSES (PHE OSES), resmi memulai injeksi perdana polimer di Lapangan Offshore Rama, Wilayah Kerja Southeast Sumatra (WK SES). Metode polymer flooding ini adalah implementasi CEOR lepas pantai pertama di Indonesia.

Prosesnya sederhana secara konsep: larutan polimer diinjeksikan ke dalam reservoir untuk mendorong sisa minyak yang tertinggal agar bisa mengalir ke permukaan. Proyek ini ditargetkan memberikan manfaat penuh hingga tahun 2030. Lebih dari sekadar menambah produksi, proyek ini menjadi laboratorium validasi teknologi untuk pengembangan CEOR full field di masa depan.

Hermansyah menegaskan bahwa proyek ini bukan hanya soal angka produksi, tetapi juga pengumpulan data operasional. "Menjadi referensi penting bagi penerapan teknologi EOR lepas pantai lainnya di Indonesia," jelasnya.

Minas Area A: Mesin Produksi 200 Ribu Barel per Hari pada 2036

Teknologi serupa sebenarnya sudah lebih dulu diterapkan di darat. Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengoperasikan CEOR komersial di Lapangan Minas Area A, zona yang telah berproduksi sejak 1952. Targetnya ambisius: meningkatkan perolehan minyak sebesar 12% hingga 16% dari Original Oil in Place (OOIP).

Keberhasilan Minas Area A menjadikan PHR sebagai pelopor CEOR di Indonesia. Proyek ini diproyeksikan berkontribusi sekitar 70 ribu barel per hari (bph) pada 2030, dan mencapai puncaknya hingga 200 ribu bph pada 2036. "Meskipun Minas merupakan lapangan tua, teknologi ini membuka jalan bagi pengembangan area Rokan lainnya seperti Balam South, Bangko, hingga Petani," kata Hermansyah.

Perburuan Wilayah Kerja Baru: 9 WK Dikantongi Sejak 2022

Untuk memastikan cadangan jangka panjang, PHE juga agresif menambah wilayah kerja (WK) eksplorasi. Sepanjang 2022–2025, perusahaan mengantongi sembilan WK baru, termasuk tiga WK pada 2025: Binaiya di Maluku, Lavender di Sulawesi Tenggara, dan Bobara di Papua. Hingga akhir Juni 2026, potensi sumber daya kontingen (2C) yang diamankan mencapai 108 juta barel setara minyak (MMBOE).

Kontribusi terbesar berasal dari temuan Migas Non Konvensional (MNK) di Wilayah Kerja Rokan yang mencatatkan potensi hingga 724,22 juta barel minyak. Sementara itu, di Kalimantan, PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) menyelesaikan pemasangan topside platform Proyek Manpatu oleh PHM pada akhir Mei 2026 dan mencapai onstream platform keempat Proyek Sisi Nubi AOI pada Juni 2026 untuk memperkuat pasokan gas nasional.

Rangkaian proyek ini menunjukkan arah baru Pertamina: tidak lagi sekadar mengejar produksi, tetapi juga memastikan ketahanan energi jangka panjang melalui kombinasi eksplorasi frontier dan teknologi enhanced oil recovery di lapangan mature.

Follow kabarsulut.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: dunia-energi.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks