KOTAMOBAGU — Kunjungan yang berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA itu disambut haru oleh pihak keluarga. Ayah, kakek, nenek, dan kerabat Enjel menerima langsung kehadiran Lucky Sugeha beserta tim di rumah mereka.
Di tengah suasana duka, keluarga justru menyampaikan dukungan moral kepada Lucky agar tetap kuat dan tabah menjalani proses hukum serta pendampingan pasca-musibah. Mereka menilai kehadiran ketua panitia sejak awal hingga kini merupakan bentuk tanggung jawab yang tidak main-main.
Keluarga Korban Apresiasi Kehadiran Ketua Panitia
Bagi keluarga, kunjungan ini bukan sekadar formalitas. Mereka mengapresiasi Lucky yang dinilai konsisten hadir, mendengar keluhan, dan memberikan dukungan nyata di tengah masa sulit.
"Kehadiran beliau menjadi penguat tersendiri bagi kami," ujar salah satu anggota keluarga yang enggan disebutkan namanya.
Sehari sebelumnya, Lucky bersama tim juga menjemput Ade Rafiska yang telah diperbolehkan keluar dari RS Monompia. Korban kemudian diantar kembali ke rumahnya di Kelurahan Genggulang, Kotamobagu.
Pelukan untuk Anak Yatim di Rumah Duka
Sejak musibah terjadi, Lucky langsung bergerak melayat almarhumah Harianti Mokoginta di Bilalang Baru 3. Jenazah korban dimakamkan pada malam harinya.
Momen paling menyentuh terjadi ketika Lucky memeluk kedua anak laki-laki almarhumah di rumah duka. Pelukan itu menjadi simbol kepedulian manusiawi kepada keluarga yang kehilangan orang terkasih secara mendadak.
Panitia Bantu Kebutuhan 8 Keluarga Korban Meninggal
Pendampingan tidak berhenti pada kunjungan. Pada Rabu (12/8/2026), panitia membantu mempersiapkan kebutuhan delapan keluarga korban meninggal dunia untuk pelaksanaan acara takziah.
Malam harinya, kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Pemerintah Kota Kotamobagu. Asisten I dan Asisten II, Kepala Kantor Kesbangpol, Kepala Dinas PP&KB, Camat Kotamobagu Utara, serta Sangadi Bilalang Baru hadir mendampingi. Penceramah Ustaz Dani Pontoh juga dihadirkan untuk memimpin doa bersama.
Tanggung Jawab Kepanitiaan di Tengah Musibah
Langkah Lucky dan tim menunjukkan bahwa tanggung jawab kepanitiaan tidak berhenti pada pelaksanaan acara. Ketika musibah terjadi, mereka memilih tetap berada di tengah keluarga korban, mendengar keluhan, dan membantu kebutuhan semampu mereka.
Di tengah suasana duka, kehadiran seperti ini menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak selalu diwujudkan dengan kata-kata besar. Terkadang, datang dan menemani keluarga yang berduka sudah menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti.
Bagi Lucky Sugeha, mendampingi keluarga korban bukan sekadar menjalankan tugas sebagai ketua panitia, melainkan panggilan rasa kemanusiaan kepada mereka yang sedang menghadapi masa paling berat dalam hidupnya.