SULAWESI UTARA — Dolgov menyampaikan pernyataan tersebut dalam sesi diskusi di Y Combinator's Startup School. Meski tidak pernah menyebut nama Tesla secara eksplisit, pernyataan ini jelas ditujukan pada strategi Tesla yang sepenuhnya bertumpu pada kamera, atau yang dikenal dengan Tesla Vision, setelah menghapus radar pada 2021 dan sensor ultrasonik pada 2022.
Argumen 'Kamera Saja' dan Batas Keamanan yang Sempit
Dolgov mengakui bahwa manusia bisa menyetir hanya dengan mata, dan itu menjadi bukti eksistensi bahwa kamera secara prinsip mampu meniru kemampuan penglihatan manusia. "Jika tujuannya hanya mendekati performa manusia atau membangun produk pendamping (driver assist), itu cara yang masuk akal," ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa target full autonomy membutuhkan level keselamatan yang jauh melampaui kemampuan manusia. "Anda akan menemukan bahwa sensing yang lemah hanya menghasilkan kurva keselamatan yang mendatar terlalu cepat," kata Dolgov, merujuk pada keterbatasan kamera dalam kondisi gelap, silau, atau saat lensa tertutup kotoran.
Mengapa Waymo Merawat Tiga Jenis Sensor Sekaligus
Waymo justru mengkombinasikan kamera, lidar, dan radar dalam sistemnya. Kamera memberi resolusi tinggi dan warna, lidar mengukur struktur 3D dunia secara langsung, sementara radar menembus kabut dan hujan serta membaca kecepatan via efek Doppler. Lidar dan radar adalah sensor aktif yang tetap bekerja baik dalam kegelapan total atau silau matahari.
"Modalitas sensor yang berbeda ini bukan sekadar cadangan satu sama lain," jelas Dolgov. Data dari ketiganya digabung menjadi satu pandangan tunggal yang ia klaim jauh lebih unggul dibanding sensor tunggal mana pun. Ia membeberkan contoh kasus: badai debu di Phoenix, pejalan kaki yang melompati pembatas beton di malam hari, hingga anak-anak menyeberang jalan gelap tanpa penerangan—semuanya gagal ditangkap kamera, tapi terlihat jelas oleh lidar.
Bahkan kasus ekstrem seperti daun yang menutupi lensa kamera bisa menghentikan laju kendaraan. Waymo pernah mengalami hal ini dan mobilnya tetap bisa kembali ke depot dengan aman menggunakan sensor lain.
Masalah 'Angka Sembilan' dan Biaya yang Kian Murah
Di balik perdebatan sensor, ada argumen matematis yang tak bisa diabaikan. Keandalan sistem berada pada "tangga eksponensial angka sembilan". Mencapai akurasi 90 persen atau 99 persen itu mudah, tapi setiap tambahan angka sembilan di belakangnya membutuhkan usaha sepuluh kali lipat. Jebakannya adalah memilih teknologi dengan perkembangan awal tercepat—yang menghasilkan demo terbaik—lalu proyeksi curam itu mendatar jauh sebelum mencapai standar produk akhir.
Soal biaya yang kerap menjadi senjata kritikus lidar, Dolgov menepisnya. Waymo sudah berada di generasi keenam perangkat kerasnya dan setiap generasi berhasil memangkas harga secara drastis. Berpegang pada harga lidar saat ini sebagai alasan menolaknya, katanya, sama saja dengan bertaruh pada "angka yang umur simpannya pendek".
Data di Lapangan: Tesla vs Waymo
Hasil di lapangan sejauh ini tampaknya mengonfirmasi batas yang disebut Dolgov. Data robotaxi Tesla di Austin menunjukkan tingkat kecelakaan sekitar tiga kali lebih buruk dibanding pengemudi manusia, meski masih ada pengawas keselamatan manusia di kursi depan. Klaim Elon Musk bahwa FSD lebih aman dari manusia belum terbukti oleh data, bahkan setelah melalui berbagai penyesuaian statistik.
Waymo sendiri mengklaim telah menempuh 220 juta mil tanpa pengemudi dan terus mempertahankan tiga jenis sensor sebagai standar keselamatan. Perdebatan ini menjadi penting bagi industri, terutama bagi konsumen yang menantikan teknologi otonom benar-benar siap dipakai di jalan raya umum, bukan sekadar pameran dalam area terbatas.