SULAWESI UTARA — Laga babak 16 besar Piala Dunia antara Inggris dan Meksiko, Senin (1/6) dini hari WIB, tak hanya menyajikan duel taktik antara dua tim raksasa. Lebih dari itu, para pemain Three Lions harus berjuang melawan udara tipis yang hanya mengandung oksigen 21 persen — sama seperti di dataran rendah — tapi tekanan barometriknya jauh lebih rendah.
Tekanan Darah dan Napas Bekerja Ekstra Sejak Menit Awal
Dr Neil Maxwell, pakar fisiologi lingkungan terapan dari University of Brighton, menjelaskan bahwa tekanan udara yang rendah membuat proses difusi oksigen ke sel darah merah menjadi tidak optimal. Akibatnya, jantung harus berdetak lebih cepat dan paru-paru bekerja lebih keras untuk mengompensasi kekurangan oksigen tersebut.
"Perasaan lelah yang biasanya muncul di 15 menit terakhir pertandingan, akan mereka rasakan sejak babak pertama," ujar Maxwell. Ia menambahkan bahwa pemain akan mengalami deplesi energi otot yang lebih besar dan kemungkinan berkeringat lebih banyak dari biasanya.
Data Riset: Gelandang Paling Terpukul, Kecepatan Lari Anjlok
Dr Rebecca Neal dari Bournemouth University membeberkan data dari atlet yang tidak melakukan aklimatisasi. Total jarak tempuh lari selama pertandingan bisa berkurang 3-9 persen, sementara lari berkecepatan tinggi (high-velocity running) merosot hingga 21 persen. Posisi yang paling terpukul adalah gelandang, yang biasanya menjadi motor transisi serangan.
"Mereka akan mengubah ritme permainan dan mengalami kelelahan neuromuskular yang lebih besar. Meski skill teknis tidak terganggu, mereka mungkin harus menggunakan taktik yang tidak biasa," jelas Neal.
Kebijakan Tuchel Diprotes, Inggris Datang H-2
Kedatangan timnas Inggris hanya dua hari sebelum pertandingan menuai kritik. Thomas Tuchel, pelatih timnas Inggris, diketahui tidak puas dengan aturan FIFA yang membatasi waktu keberangkatan tim ke Mexico City. Dr Maxwell menegaskan mitos "masa tenggang 24 jam" sebelum efek ketinggian terasa adalah keliru.
"Tubuh mulai bereaksi terhadap hipoksia dalam waktu enam jam setelah tiba. Tidak ada masa aman," tegas Maxwell.
Bola Lebih Kering, Efek Magnus Berkurang
Udara tipis bukan cuma mempengaruhi fisik pemain. Prof Barton Smith, ahli teknik mesin dan aerospace dari Utah State University, menyebut densitas udara di Mexico City 25 persen lebih rendah dari permukaan laut. Akibatnya, hambatan udara (drag) terhadap bola berkurang, dan efek Magnus — yang membuat bola melengkung — juga mengecil.
"Bola akan bergerak lebih lurus. Artinya, finesse dalam tembakan menjadi lebih sulit dicapai," kata Smith.
Keunggulan Tuan Rumah: Setiap 1.000 Meter Beri Setengah Gol
Data riset menunjukkan tim yang berbasis di dataran tinggi mencetak lebih banyak gol dan kebobolan lebih sedikit dibanding tim dataran rendah. Setiap perbedaan ketinggian 1.000 meter memberikan keuntungan setengah gol bagi tim tuan rumah — dan keunggulan itu biasanya terasa lebih besar di babak kedua.
Namun, Maxwell memberikan sedikit catatan positif. "Ada toleransi silang atau manfaat adaptasi silang dari panas ke ketinggian. Inggris yang sudah beradaptasi dengan suhu panas akan mendapat sedikit keuntungan di lingkungan ketinggian," ujarnya. Ia menambahkan bahwa dengan dukungan medis dan persiapan yang matang, risiko terbesar Inggris bukanlah kesehatan serius, melainkan penurunan intensitas kerja, recovery, dan kemampuan pengambilan keputusan.