BITUNG — Sebanyak 34 kelompok peserta dari berbagai elemen masyarakat dan komunitas lintas etnis ikut memeriahkan Parade Nusantara dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 di Kota Bitung. Ribuan warga berjejer di sepanjang jalan protokol untuk menyaksikan iring-iringan yang menampilkan pakaian adat, marching band, tarian tradisional, hingga atraksi Cakalele.
Parade yang digagas Satuan Patroli (Satrol) Kodaeral VIII Bitung ini start dari halaman markas Satrol dan berakhir di Lapangan Kantor Wali Kota Bitung. Komandan Satrol Kodaeral VIII Bitung, Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Frits E.D., memimpin langsung pelepasan peserta bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Bitung.
Prosesi Adat Tonsea di Tengah Kemeriahan Parade
Momen paling sakral dalam rangkaian acara itu adalah pengukuhan Kolonel Marvill sebagai Tonaas Tonsea Waraney UN Tasik. Gelar adat dari Majelis Adat Budaya Tonsea ini diberikan langsung di hadapan ribuan warga dan tokoh adat yang hadir.
Bukan hanya Dansatrol, Wali Kota Bitung Hengky Honandar, Wakil Wali Kota Randito Maringka, Dandim 1310/Bitung Letkol Inf I Dewa Made Dharmawan Juniarta, serta perwakilan Kapolres Bitung AKBP Albert Zai juga menerima gelar adat serupa. Penghargaan ini menjadi simbol penghormatan masyarakat adat terhadap institusi negara yang dinilai dekat dengan budaya lokal.
Antusiasme Warga hingga dari Luar Sulut
Kolonel Marvill mengaku terkesan dengan tingginya antusiasme masyarakat yang datang tidak hanya dari Sulawesi Utara, tetapi juga dari Jawa, Makassar, Gorontalo, Kupang, hingga Nias. “Ini menunjukkan semangat kebangkitan nasional masih hidup dan kuat,” ujarnya kepada wartawan di sela acara.
Menurutnya, parade ini menjadi bukti bahwa budaya mampu menjadi perekat persatuan di tengah keberagaman. “Ketika keberagaman bisa berjalan berdampingan dalam satu parade, maka di situlah Indonesia menunjukkan jati dirinya,” kata Kolonel Marvill.
Elemen Masyarakat yang Terlibat dalam Parade
Parade Nusantara ini melibatkan banyak pihak, mulai dari Majelis Adat Budaya Minahasa Tonsea, Badan Kesbangpol Kota Bitung, Dinas Pariwisata, hingga Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung. Komunitas suku Nias, Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo (KKIG), dan Taman Sulut Mahasatu turut ambil bagian.
Bagi Kolonel Marvill, penganugerahan gelar adat yang diterimanya bukan sekadar kehormatan pribadi. “Ini menjadi simbol kedekatan TNI dengan rakyat serta penghormatan terhadap budaya lokal,” tegasnya. Ia menambahkan, momentum Harkitnas harus terus dijaga melalui keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang suku, budaya, maupun agama.