Pupuk Indonesia Bangun Dua Pabrik Soda Ash, Pangkas Impor 60 Persen

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Senin, 02 November 2026 | 08:34:31 WIB
Pabrik soda ash Petrokimia Gresik dirancang berkapasitas 300.000 ton per tahun.

SULAWESI UTARA — PT Pupuk Indonesia (Persero) membangun dua pabrik soda ash di Gresik, Jawa Timur, dan Bontang, Kalimantan Timur, dengan kapasitas gabungan 600.000 ton per tahun untuk memangkas sekitar 60 persen volume impor soda ash nasional. Langkah ini diambil saat Indonesia masih mengimpor 1,05 juta ton soda ash senilai US$ 225 juta atau sekitar Rp 4,08 triliun pada 2025.

Gresik, Jawa Timur — Lewat anak usaha PT Petrokimia Gresik dan PT Rekayasa Industri (Rekind), Pupuk Indonesia menandatangani kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) untuk proyek soda ash dan amonium klorida. Proyek di Gresik ini menjadi fasilitas soda ash kedua yang digarap Pupuk Indonesia Group, setelah sebelumnya perusahaan juga menyiapkan pabrik serupa melalui Pupuk Kalimantan Timur di Bontang.

Berapa Besar Penghematan Devisa yang Dibidik

Pabrik Soda Ash Petrokimia Gresik dirancang berkapasitas 300.000 ton per tahun. Dengan angka itu, fasilitas tersebut berpotensi menggantikan sekitar 29 persen volume impor soda ash nasional, dengan estimasi penghematan devisa Rp 1,4 triliun per tahun.

Ketika kedua pabrik di Gresik dan Bontang beroperasi penuh, kapasitas gabungannya mencapai 600.000 ton soda ash per tahun. Rahmad memperkirakan penghematan devisa dari kedua fasilitas itu sekitar Rp 2 triliun per tahun.

“Melalui hilirisasi, kami memperluas kemampuan Indonesia menghasilkan bahan baku industri, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi dalam keterangannya, dikutip Senin (2/11).

Bukan Cuma Soda Ash, Ada Amonium Klorida untuk Bahan NPK

Proyek di Gresik juga memproduksi amonium klorida dengan kapasitas 300.000 ton per tahun. Produk ini bakal dipakai sebagai bahan baku pembuatan pupuk NPK, sehingga memperkuat integrasi rantai pasok industri kimia sekaligus menopang ketersediaan bahan baku pupuk nasional.

Pengembangan ini masuk dalam agenda industrialisasi Pupuk Indonesia berupa pembangunan dan revitalisasi 8 pabrik dalam 5 tahun ke depan. Bagi perseroan, diversifikasi produk kimia bernilai tambah ini melengkapi dua mandat yang diembannya.

“Pupuk Indonesia mengemban dua mandat strategis yang saling memperkuat, yaitu menjaga ketahanan pangan dan membangun kedaulatan industri nasional. Kedua mandat ini menjadi arah bagi setiap investasi, inovasi, dan langkah transformasi yang kami jalankan,” kata Rahmad.

Sisi Hijau: Menyerap 174.000 Ton CO2 per Tahun

Pabrik soda ash dan amonium klorida Petrokimia Gresik dirancang memanfaatkan sekitar 174.000 ton karbon dioksida (CO2) per tahun dari proses produksi pupuk. Pemanfaatan CO2 ini menghubungkan kegiatan produksi pupuk dengan pengembangan produk kimia bernilai tambah, sekaligus menjadi bagian dari dekarbonisasi bertahap menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.

Petrokimia Gresik telah menguji teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) lewat fasilitas pilot plant. Pengujian untuk mengolah CO2 dari proses industri menjadi soda ash mencatat efisiensi penangkapan CO2 sebesar 91,48 persen hingga 97,79 persen.

“Melalui Proyek Soda Ash dan Amonium Klorida ini, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi dapat dikembangkan menjadi kemampuan industri, dan teknologi rendah karbon dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata,” tambah Rahmad.

“Momentum ini menjadi kesempatan bagi Pupuk Indonesia untuk menunjukkan industri pupuk mampu menjadi penggerak transformasi industri nasional melalui penguatan pasokan bagi pertanian, perluasan hilirisasi, dan pengembangan industri rendah karbon yang berdaya saing,” ujarnya.

Dengan kapasitas gabungan 600.000 ton per tahun, dua pabrik soda ash Pupuk Indonesia menjadi taruhan besar untuk memangkas ketergantungan impor bahan baku industri yang selama ini membebani neraca devisa. Jika berjalan sesuai rencana, hilirisasi di sektor pupuk tidak lagi berhenti di produk pertanian, tetapi merambat ke rantai pasok kimia nasional.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top