Film Salvation Tayang Perdana di TIFF, Angkat Kultur Influencer Pria

Penulis: Dedi Supriadi  •  Minggu, 13 September 2026 | 18:32:31 WIB
Sutradara Tom Nicoll menayangkan perdana film "Salvation" di Toronto International Film Festival.

SULAWESI UTARA — Tom Nicoll, penulis sekaligus sutradara asal Skotlandia, resmi menayangkan debut panjangnya bertajuk "Salvation" di Toronto International Film Festival (TIFF). Film ini masuk dalam seksi Discovery dan sebelumnya telah terpilih untuk program Great 8 dari BFI dan British Council di Cannes.

MetFilm Sales baru saja mengambil alih penjualan internasional film ini. "Salvation" dibintangi Liam Harkins, Stephen McMillan, Kathleen McDermott, dan Conor McCarron.

Premis: Life Coach yang Terjebak dalam Bisnisnya Sendiri

Berlatar sebagian besar di Greenock, sebuah kota pasca-industri di Skotlandia, "Salvation" mengikuti Danny Carlton (Liam Harkins) yang keluar dari retret pengembangan diri dengan keyakinan bahwa ia telah menemukan jalan hidup yang benar. Setelah merasa "ditransformasi" oleh guru kharismatik Marshall Allison (Kevin O'Loughlin), Danny bertekad membangun bisnis life coaching miliknya sendiri.

Masalahnya sederhana: hampir tidak ada yang mau membeli apa yang ia jual. Sementara itu, uang yang ia habiskan dan pinjam untuk mengejar bisnis ini terus membengkak. Situasi itu mendorongnya ke arah yang semakin putus asa.

Bukan Sekadar Satire Influencer Pria

Nicoll menegaskan film ini bukan tentang mencari target mudah di dunia influencer pria. Ia lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih mendasar soal apa yang membuat seseorang mencari tujuan hidup dan nilai dari apa yang ia kerjakan.

"Saya rasa tidak ada orang yang pernah dihina sampai berubah pikiran," kata Nicoll kepada Variety. "Mudah untuk menunjuk dan menertawakan seseorang."

Menurut Nicoll, satire menyeluruh tentang dunia influencer mungkin hanya memberi "lelucon mudah" selama lima atau sepuluh menit. Memahami mengapa seseorang rentan terhadap budaya itu, katanya, adalah motivasi yang lebih sulit sekaligus lebih menarik untuk digarap.

Dalam film, Danny digambarkan bukan sebagai sosok sinis. Ketika ia berbicara kepada Scott (Stephen McMillan), seorang pemuda depresi yang datang menemuinya, Danny benar-benar percaya bahwa Marshall telah menyelamatkannya dari masa gelap.

"Dia benar-benar bersungguh-sungguh ketika mengatakan bahwa Marshall menyelamatkannya dari tempat yang sangat gelap," ujar Nicoll. "Itu bagian krusial dari karakter ini."

Dinamika Kuasa dan Manipulasi

Seiring berjalannya film, tekanan ekonomi perlahan mengambil alih. Hubungan antara Danny dan Scott berubah ketika Danny menyadari bahwa permainan kata yang ia serap dari dunia self-help bisa berubah menjadi alat manipulasi.

Hasilnya adalah rantai hubungan yang tidak setara: Marshall punya kuasa atas Danny, sementara Danny memperoleh kuasa atas Scott. Nicoll menilai dinamika itu melampaui satu aliran budaya digital tertentu.

"Sebagian besar orang mungkin bisa memahami perasaan ketika Anda membuka internet dan seseorang memberi tahu cara makan lebih baik, olahraga lebih baik, atau hidup lebih bahagia," ujarnya. Di momen ketidakpastian, janji bahwa orang lain tahu cara memperbaikinya sulit ditolak.

Kolaborasi Harkins dan Pilihan Visual 4:3

Nicoll sebelumnya menyutradarai Harkins dalam film pendek "Lighting Tests". Naskah "Salvation" ia tulis dengan mempertimbangkan kombinasi langka yang ia lihat pada aktor tersebut: maskulinitas yang tampak konvensional di permukaan, tapi disertai kerentanan, sensitivitas, dan timing komedi.

"Saya punya ide ceritanya dan berpikir dia akan sempurna untuk peran ini," kata Nicoll. Ia mengirim draf bolak-balik ke Harkins sekitar satu tahun sebelum syuting dimulai.

Hubungan di pusat cerita film ini membutuhkan kehangatan sekaligus eksploitasi. Nicoll mengaku gugup saat mengatur pertemuan Zoom antara kedua aktor utamanya sebelum syuting, sampai menyiapkan daftar pertanyaan untuk berjaga-jaga jika percakapan macet.

"Saya rasa saya hanya mengatakan sekitar tiga hal dalam satu jam," kenangnya. "Mereka langsung mengobrol, saling mengenal, lalu membahas karakter."

Dari sisi visual, Nicoll bersama sinematografer Alex Grigoras memilih rasio 4:3. "Kami selalu tahu ini akan menjadi film tentang wajah-wajah," ujarnya. Format itu memberi kedekatan sekaligus klaustrofobia saat pilihan-pilihan Danny semakin menyempit.

Lensa panjang memampatkan ruang di sekitarnya, terutama di interior. Kamera yang awalnya diam perlahan bergerak tak tenang ketika situasi memburuk. Skor komposisi Salla Luhtala bergerak ke arah berlawanan, memperbesar keadaan sederhana Danny agar sesuai dengan cara ia memandang dirinya sendiri.

"Seperti dunia ini miliknya. Itu yang ia rasakan," kata Nicoll. "Rasanya seperti ia terlahir kembali."

Penayangan perdana "Salvation" di TIFF menempatkan Nicoll dalam jajaran sutradara debut yang dipantau pasar festival internasional, dengan MetFilm Sales sudah mengantongi hak penjualan global untuk film ini.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top