SULAWESI UTARA — Prancis datang ke Amerika Serikat dengan status sebagai salah satu favorit juara, namun pertanyaan soal identitas permainan mereka belum sepenuhnya terjawab. Antoine Griezmann pernah melontarkan sindiran pedas soal gaya Deschamps saat Euro 2024: “Menyakitkan untuk ditonton, tapi membuatmu menang.” Kalimat itu menjadi cermin perdebatan yang terus membayangi skuad Les Bleus.
Di Jerman, Prancis hanya mencetak satu gol dari open play sepanjang turnamen, lewat Randal Kolo Muani saat kalah dari Spanyol di semifinal. Tiga gol lainnya berasal dari penalti atau gol bunuh diri lawan. Data itu kontras dengan kekuatan individu yang dimiliki lini depan mereka.
Deschamps sendiri sadar akan keterbatasan pendekatannya. Dalam tur Amerika Serikat Maret lalu, ia mengaku ingin timnya “tidak terlalu bisa ditebak dan mudah dibaca.” Namun, kekhawatiran muncul: apakah perubahan itu akan mengorbankan pertahanan yang hanya kebobolan sedikit gol di kualifikasi?
Lucas Hernandez dengan percaya diri menyebut Prancis punya “serangan terbaik di dunia.” Data mendukung klaim itu: Mbappé kini berperan sebagai ujung tombak nomor 9 dan hampir melewati rekor gol sepanjang masa Olivier Giroud. Dembélé baru saja meraih Ballon d’Or, sementara Michael Olise menjadi kreator tambahan di sayap kanan.
Tantangan Deschamps adalah menyatukan tiga individu bertalenta tinggi itu menjadi satu kesatuan yang koheren. Sejak Giroud pensiun dari tim nasional pada 2024, formula ideal belum ditemukan. Uji coba melawan Brasil dan Kolombia di AS menunjukkan tanda-tanda positif, tapi konsistensi masih diragukan.
Di usianya yang baru 20 tahun, Warren Zaïre-Emery sudah melalui pasang surut. Sempat menjadi bintang di debutnya bersama timnas senior, ia kemudian kehilangan tempat di PSG dan turun ke U-21 Prancis. Kini, ia bangkit sebagai pilar lini tengah klubnya, bahkan menunjukkan fleksibilitas dengan bermain sebagai bek kanan di Liga Champions melawan Bayern Munich. Opsi itu bisa menjadi jawaban bagi Deschamps yang belum menemukan bek kanan ideal.
Sementara William Saliba mendapat pujian di Arsenal, Dayot Upamecano justru menjadi fondasi pertahanan Prancis. Bek Bayern Munich yang kini berusia 27 tahun itu memulai semua laga kualifikasi kecuali satu pertandingan yang sudah tidak menentukan. Konsistensi dan ketenangannya membuat Ibrahima Konaté hanya menjadi pilihan kedua.
Sekitar 1.000 suporter Prancis diperkirakan hadir di setiap pertandingan, dengan kelompok Irrésistibles Francais (IF) sebagai motor utama. Yel-yel seperti “Allez Les Bleus” dan “Qui ne saute pas n’est pas Français” akan memenuhi stadion. Di sisi lain, hubungan antara Presiden Emmanuel Macron dan Donald Trump yang sempat erat pada 2017 kini mulai goyah—sebuah dinamika politik yang bisa mempengaruhi atmosfer di luar lapangan.