AMURANG — Suasana teduh menyelimuti halaman Kantor Kejaksaan Negeri Minahasa Selatan saat Salat Iduladha berlangsung. Di tengah barisan jamaah, hadir Bupati Minsel FDW-Theodorus Kawatu, Wakil Bupati Rocky Wowor, Kapolres AKBP S. Simamora, serta sejumlah pejabat dari Dandim dan Kejari. Mereka duduk bersimpuh bersama warga, mengikuti rangkaian ibadah hingga khotbah usai.
Bupati FDW-Theodorus Kawatu menyebut momen ini bukan sekadar seremoni tahunan. “Ini adalah bukti bahwa toleransi di Minsel bukan slogan. Kami hadir untuk menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi kami untuk saling menghormati dan bekerja sama,” ujarnya usai salat.
Pemilihan lokasi di kantor Kejari dinilai strategis. Gedung penegak hukum itu menjadi titik temu antara aparat, pemerintah daerah, dan masyarakat. “Kami ingin menunjukkan bahwa institusi hukum juga menjadi rumah bagi semua umat beragama,” kata Kepala Kejari Minsel, Alexander S. Rorimpandey.
Jamaah yang hadir memadati halaman yang sebelumnya disulap menjadi lapangan salat darurat. Tak ada sekat atau pembatas khusus. Semua duduk beralaskan karpet plastik yang digelar di atas aspal.
Wakil Bupati Rocky Wowor menambahkan bahwa momen Iduladha menjadi pengingat pentingnya semangat berkurban dan berbagi. “Kami di pemerintahan tidak hanya bekerja di meja, tapi juga turun langsung merasakan kebersamaan dengan warga,” katanya.
Usai salat, panitia menyembelih beberapa ekor sapi dan kambing kurban. Dagingnya langsung didistribusikan ke warga sekitar, termasuk ke kampung-kampung yang mayoritas penduduknya non-Muslim. “Ini tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun. Semakin mempererat kami,” ujar salah satu panitia, Jhonny Runtuwene.
Bupati FDW-Theodorus Kawatu berharap tradisi ini terus berlanjut. “Kami ingin Minsel menjadi contoh bagi daerah lain. Toleransi bukan soal mengalah, tapi soal saling menghargai,” pungkasnya.