Perempuan Pesisir Minahasa Utara Bawa Kisah Mangrove dan Keadilan Iklim ke Forum Women Deliver 2026 di Melbourne

Penulis: Dedi Supriadi  •  Sabtu, 16 Mei 2026 | 11:33:05 WIB
Wisye Sahambangung dari Women Mangrove Warrior memaparkan pelestarian mangrove di forum Women Deliver 2026, Melbourne.

MINAHASA UTARA — Perempuan pesisir di Sulawesi Utara tak lagi hanya menjadi penonton dalam isu perubahan iklim. Mereka kini tampil di forum internasional, membawa praktik pelestarian mangrove yang berjalan beriringan dengan usaha ekonomi keluarga.

Wisye Sahambangung, representasi dari komunitas Women Mangrove Warrior Desa Sarawet, naik ke panggung diskusi bertajuk Guardians of the Coast: Women Leading Climate Justice. Di hadapan peserta dari berbagai negara, ia memaparkan bagaimana perempuan di desanya terlibat langsung dalam pembibitan, penanaman, hingga pemantauan kawasan mangrove.

Dari Dapur ke Garis Pantai: Perempuan sebagai Garda Terdepan

Menurut Wisye, keterlibatan perempuan dalam pelestarian mangrove bukan sekadar gerakan lingkungan. Lewat Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP), mereka mengelola hasil hutan mangrove untuk menopang ekonomi rumah tangga.

“Perempuan di desa kami bukan hanya mendukung dari belakang, tetapi ikut bekerja di lapangan menjaga mangrove. Dari situ kami belajar bahwa pelestarian lingkungan juga bisa berjalan bersama penguatan ekonomi keluarga,” ujar Wisye dalam pemaparannya di forum yang digelar di Melbourne, Australia itu.

Ia mengaku tak menyangka pengalaman komunitas kecil dari pesisir Minahasa Utara mendapat atensi peserta internasional. Respons positif itu, kata dia, menjadi motivasi baru untuk terus menjaga mangrove sebagai benteng alami desa.

Dukungan Lembaga dan Apresiasi Pemkab Minut

Wisye menyebut sejumlah lembaga seperti CARE Indonesia dan Yayasan Bumi Tangguh turut mendorong komunitas perempuan di Sarawet agar lebih percaya diri membawa pengalaman mereka ke ruang global. Dukungan teknis dan pendampingan menjadi fondasi gerakan akar rumput ini.

Bupati Minahasa Utara Joune J. E. Ganda menyampaikan apresiasi atas capaian komunitas perempuan pesisir tersebut. Menurutnya, keterlibatan perempuan desa dalam isu lingkungan membuktikan bahwa gerakan dari bawah mampu memberi dampak lebih luas.

“Kehadiran mereka di forum dunia menjadi bukti bahwa perempuan desa memiliki peran penting dalam menjaga kawasan pesisir sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat,” ujar Joune.

Mangrove: Mitigasi Iklim dan Potensi Pariwisata Berkelanjutan

Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara menilai kawasan mangrove memiliki potensi besar. Selain sebagai upaya mitigasi perubahan iklim dan pencegahan abrasi, ekosistem ini juga bisa mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di wilayah pesisir.

Keikutsertaan Women Mangrove Warrior di forum internasional itu diharapkan menjadi pemicu lahirnya lebih banyak komunitas lingkungan di pesisir Minut. Khususnya yang melibatkan generasi muda dan perempuan dalam menjaga ekosistem pantai.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: infokini.news This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top