BOLTIM — Java Culture Fest (JCF) 2026 resmi bergulir di Lapangan Arjuna, Desa Purworejo, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Senin (11/5/2026). Mengusung tema Gangsa Angsal, festival ini dibuka langsung oleh Wakil Bupati Boltim Argo V. Sumaiku mewakili Bupati Oskar Manoppo.
Dalam sambutan yang dibacakan Argo, pemerintah daerah menegaskan bahwa JCF bukan sekadar hiburan tahunan. “Festival ini adalah wujud nyata kita untuk melestarikan budaya, mempererat silaturahmi serta mendorong pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif daerah,” ujarnya.
Argo menyebut Boltim sebagai daerah yang kaya keberagaman. Etnis Jawa yang telah lama menetap di wilayah itu disebut menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan pembangunan daerah.
“Melalui festival ini, kami selaku pemerintah daerah berharap agar nilai-nilai luhur mototompia’an, mototabian bo mototanoban tetap menjadi landasan kita bersama,” kata Argo. Ia menambahkan, budaya Jawa yang sarat filosofi andhap ashor atau rendah hati dan gotong royong sangat selaras dengan nilai-nilai adat setempat.
Usai pembukaan, Wakil Bupati meninjau sejumlah stand UMKM yang berdiri di lokasi festival. Kehadiran puluhan stan ini menjadi bukti bahwa JCF tak hanya bicara budaya, tetapi juga menggerakkan ekonomi warga sekitar.
Festival tahun ini digarap oleh dua kelompok masyarakat: Purworejo Bersatu dan Liberia Bersatu, yang terdiri dari tujuh desa di Kecamatan Modayag. Mereka mengelola sendiri rangkaian acara, mulai dari panggung kesenian hingga bazar produk lokal.
Pemerintah Kabupaten Boltim melihat JCF sebagai ruang aktualisasi budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif. Tidak ada anggaran besar dari APBD untuk event ini—sebagian besar digerakkan oleh swadaya masyarakat dan partisipasi pelaku UMKM.
Acara pembukaan turut dihadiri Staf Ahli I TP PKK Boltim Ny. Lucia K. Mokoginta, Asisten III Bidang Administrasi Umum, sejumlah pimpinan OPD, camat, para sangadi, serta tokoh adat dan tokoh agama setempat.