MANADO — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat NTP Sulawesi Utara pada April 2026 naik 3,38 persen dibanding bulan sebelumnya. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 5,37 persen, jauh melampaui kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang hanya 1,93 persen.
Kepala BPS Sulawesi Utara Dr. Watekhi, S.Si., MSE menjelaskan, selisih antara It dan Ib ini menjadi indikator utama membaiknya kesejahteraan petani. “Kondisi ini mengindikasikan adanya perbaikan daya beli dan tingkat kesejahteraan petani di daerah tersebut,” ujarnya.
Subsektor hortikultura menjadi pendorong utama dengan lonjakan NTP mencapai 23,21 persen. Pertumbuhan positif juga tercatat pada subsektor tanaman perkebunan rakyat yang naik 0,74 persen.
Namun, tiga subsektor lain justru mengalami penurunan. NTP pada tanaman pangan, peternakan, serta perikanan tercatat negatif pada periode yang sama. Data ini menunjukkan pemulihan sektor pertanian di Sulut masih bersifat parsial.
Tidak hanya NTP, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Sulawesi Utara juga menguat 5,24 persen. Angka ini sekaligus memimpin pertumbuhan tertinggi di antara enam provinsi di Pulau Sulawesi. Secara tahun kalender (year to date), performa komoditas pertanian Sulut tumbuh 1,86 persen dibanding awal tahun 2026.
Sementara itu, indeks konsumsi rumah tangga di Sulawesi Utara ikut merangkak naik 2,51 persen secara bulanan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi rumah tangga dengan kenaikan 3,64 persen.
Pertumbuhan ini tidak lepas dari tangan dingin Gubernur Sulut Yulius Selvanus. Pemerintah provinsi dinilai mampu mendorong semua sektor demi kemajuan Sulawesi Utara, meskipun data BPS belum merinci kebijakan spesifik yang berkontribusi langsung terhadap lonjakan NTP April lalu.
Secara tahunan (year on year), NTP Sulawesi Utara mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,07 persen. Angka ini menunjukkan tren positif dalam jangka panjang, meski lajunya lebih moderat dibanding lonjakan bulanan.