Rebellion memastikan tidak akan menampilkan aset hasil kecerdasan buatan generatif secara langsung dalam judul-judul game masa depan mereka. CEO Rebellion Jason Kingsley mendorong diskusi industri yang lebih bernuansa ketimbang sekadar menolak atau menerima teknologi tersebut mentah-mentah. Sikap ini mempertegas batasan antara penggunaan AI sebagai alat bantu efisiensi dan AI sebagai kreator konten akhir.
Studio di balik kesuksesan seri Sniper Elite dan Atomfall, Rebellion, mengambil posisi tegas di tengah tren adopsi kecerdasan buatan (AI) yang masif. Jason Kingsley, CEO Rebellion, menyatakan bahwa pihaknya tidak memiliki rencana untuk menggunakan AI generatif pada elemen visual yang muncul di layar pemain. Menurutnya, hal tersebut bukan merupakan arah kreatif yang ingin ditempuh oleh perusahaan.
Meskipun menolak penggunaan AI untuk hasil akhir, Kingsley menyayangkan polarisasi yang terjadi dalam diskusi publik mengenai teknologi ini. Ia menilai perdebatan saat ini cenderung ekstrem, di mana satu pihak menolak AI secara total, sementara pihak lain mendukung penggunaan AI di segala lini tanpa filter.
"Diskusi daring menurut saya harus lebih bernuansa. Kita seharusnya bisa memiliki percakapan yang lebih baik, lebih bermakna, dan mendiskusikan berbagai ide," ujar Jason Kingsley dalam wawancara bersama GameSpot.
Kingsley percaya bahwa realitas penggunaan AI seharusnya berada di titik tengah. Baginya, teknologi ini memiliki potensi besar jika ditempatkan sebagai bagian dari rantai alat (tool chain) untuk mempercepat proses iterasi desain, bukan menggantikan peran manusia dalam pengambilan keputusan kreatif.
Rebellion melihat potensi praktis AI generatif dalam tahap pra-produksi. Kingsley mencontohkan bagaimana seorang desainer dapat menggunakan AI untuk menguji konsep visual dengan cepat tanpa harus membangun aset dari nol. Hal ini memungkinkan tim kreatif untuk membuang ide yang tidak berhasil dan fokus pada konsep yang memiliki potensi lebih besar.
Sebagai ilustrasi, Kingsley merujuk pada salah satu level ikonik di Sniper Elite yang menampilkan jembatan viaduk besar. Ia menjelaskan bagaimana AI bisa membantu proses kreatif di tahap awal:
"Seorang desainer bisa memasukkan tangkapan layar tersebut ke AI generatif dan bertanya, 'Bagaimana tampilannya jika di bawah salju? Apakah permainannya akan terasa berbeda di malam hari?' Itu berarti mereka bisa mengeksplorasi ide dengan murah dan cepat untuk melihat apakah ide tersebut layak dikerjakan lebih lanjut oleh manusia."
Langkah Rebellion ini menunjukkan tren di mana studio game kelas menengah mulai memetakan batasan etis dan teknis penggunaan AI. Dengan menolak AI generatif "di atas layar", Rebellion berupaya menjaga integritas artistik yang selama ini menjadi identitas mereka di mata penggemar genre tactical shooter.
Fokus perusahaan tetap pada pemberdayaan tenaga kerja manusia. Penggunaan AI hanya diizinkan untuk membantu tugas-tugas teknis yang repetitif agar para pengembang memiliki lebih banyak waktu untuk mengasah detail permainan yang membutuhkan sentuhan emosional dan logika manusia.