SULAWESI UTARA — CEO Apple John Ternus mengungkap sejarah panjang iPhone Duo dalam wawancara dengan majalah TIME, setelah perangkat lipat itu masuk daftar penemuan terbaik 2026. Ternus menyebut upaya awal foldable pesaing pada 2010-an terasa "murah dan buruk", sehingga Apple memilih menunda peluncuran demi menyempurnakan desain. Pendekatan itu menyorot prioritas Ternus yang lebih memilih kualitas ketimbang menjadi yang pertama di pasar.
Keterlibatan Ternus pada proyek perangkat lipat Apple bukan hal baru. Pada 2011, saat sebagian besar orang masih memakai ponsel flip, ia bersama lima insinyur lain mengajukan paten untuk perangkat elektronik lipat. Paten itu menelaah jenis baterai dan papan sirkuit yang dibutuhkan untuk mewujudkan ide tersebut.
"Terasa jelas bahwa kita akhirnya akan sampai ke titik di mana layar OLED bisa fleksibel," ujar Ternus dalam wawancara dengan TIME.
Puluhan Tahun Menanti Foldable yang "Tidak Murah"
iPhone Duo masuk pasar hampir satu dekade setelah perangkat lipat merek lain lebih dulu hadir. Ternus mengaku tidak tertarik dengan percobaan awal foldable dari perusahaan lain pada 2010-an. Menurutnya, contoh-contoh itu terasa "murah dan buruk".
Pernyataan itu menegaskan alasan Apple tidak buru-buru mengikuti tren. Alih-alih mengejar waktu, Ternus mendorong timnya untuk menambah waktu dan tenaga pada proyek tersebut meski pesaing sudah menjual produk lebih dahulu.
Tekanan di Balik Permukaan Nanotexture
Wakil Presiden Desain Produk Apple, Richard Dinh, mengisahkan satu momen ketika ia bertanya kepada Ternus soal material permukaan atas yang mirip milik pesaing. Dinh menilai material itu punya cacat, tetapi mungkin sudah cukup baik.
"Dan dia berkata, 'Lihat, Rich, kamu akan tahu kapan itu hal yang benar.' Itu memberi kami kepercayaan diri untuk benar-benar mendorong batas inovasi dan manufaktur, terbang ke seluruh dunia untuk menghubungkan pemasok kami dan menghasilkan nanotexture," tutur Dinh.
Nanotexture adalah teknologi permukaan yang jadi hasil akhir proyek itu. Permukaannya dibuat dari polimer khusus dan dibangun di atas engsel berisi lebih dari 100 komponen presisi kecil di bagian dalam. Sejumlah pengguna pertama mengaku hampir tidak bisa mendeteksi lipatan pada layar perangkat.
Fokus Desain di Awal Masa Jabatan
Laporan TIME juga menyebut Ternus "mencurahkan sebagian besar awal masa jabatannya sebagai CEO untuk obsesi pada desain". Ia menghabiskan beberapa hari dalam sepekan di studio bersama tim desain industri dan antarmuka manusia. Pola ini sejalan dengan laporan Bloomberg sebelumnya soal prioritas awal Ternus.
Selain iPhone Duo, Ternus membahas sejumlah topik lain dalam wawancara tersebut. Salah satunya ketergantungan Apple Intelligence pada teknologi Gemini.
"Tidak ada tujuan yang mengharuskan kami membuat setiap hal di dalam sebuah produk. Kami membuat hal-hal di mana kami benar-benar bisa menghadirkan diferensiasi," kata Ternus.
Klaim Keunggulan Siri AI
Ternus juga menyoroti keunggulan Siri AI dibanding asisten buatan perusahaan lain. Menurutnya, data yang tersimpan di ponsel jadi pembeda utama.
"Segalanya dalam hidupmu ada di ponselmu. Dengan Siri AI, kamu bisa memanfaatkan semua informasi itu untuk melakukan, mempelajari, dan memecahkan berbagai hal dengan cara yang tidak bisa dilakukan orang lain," ujarnya.
Ia juga menyinggung ritme kerja menjelang acara peluncuran produk pada September. Ternus mengaku tidak banyak tidur karena berada dalam momen penuh adrenalin, kafein, dan antusiasme menyambut hari peluncuran.
Wawancara lengkap Ternus bersama TIME membahas sejumlah topik lain, termasuk visi Apple soal AI dan arah desain produk ke depan. Pembahasan iPhone Duo sendiri jadi sorotan karena menjadi penanda pertama bagaimana Apple ingin bersaing di segmen perangkat lipat, segmen yang selama ini dikuasai merek seperti Samsung dengan seri Galaxy Z-nya.
Buah dari pendekatan itu baru akan terlihat penuh saat iPhone Duo dipakai lebih luas di pasar. Bagi pengguna yang mengutamakan layar lipat tanpa lipatan terasa dan tidak masalah menunggu lebih lama, iPhone Duo jadi kandidat yang layak dipantau begitu masuk pasar Indonesia.