Manado – Peringatan Hari Juang Polri di lingkungan Polda Sulawesi Utara menjadi momentum refleksi bagi seluruh anggota untuk meneladani keberanian para pendahulu yang bertempur bersama rakyat. Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Alamsyah Hasibuan menegaskan bahwa semangat pengabdian tersebut harus menjadi kompas dalam menjalankan tugas, bukan hanya sekadar mengenang peristiwa sejarah.
MANADO — Peringatan Hari Juang Polri di Sulawesi Utara ditegaskan sebagai penguat komitmen pengabdian bagi setiap anggota, bukan semata agenda seremonial tahunan. Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Alamsyah Hasibuan menyebut momentum ini menjadi pengingat perjalanan panjang institusi dalam membela bangsa.
"Hari Juang Polri tidak sekadar menjadi peringatan sejarah, tetapi juga simbol dedikasi dan komitmen setiap insan Bhayangkara untuk melanjutkan nilai perjuangan para pendahulu," kata Kombes Pol Alamsyah di Manado, Jumat.
Menurutnya, semangat yang diwariskan para pendahulu itu relevan dengan tantangan tugas Polri di tengah masyarakat saat ini. Nilai keberanian dan pengabdian harus terus menyala dalam setiap pelaksanaan tugas.
Mengenang Proklamasi Polisi dan Pertempuran Surabaya
Rangkaian upacara peringatan diisi dengan hening cipta, pembacaan sejarah, serta pembacaan Proklamasi Polisi. Naskah bersejarah itu berbunyi, "Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945 dengan ini menjatakan Poelisi sebagai Poelisi Repoeblik Indonesia".
Kombes Pol Alamsyah menjelaskan, sejarah Hari Juang Polri tak bisa dilepaskan dari perjuangan bersama rakyat mempertahankan kemerdekaan, khususnya di Surabaya pada 1945. Salah satu momen yang membangkitkan perlawanan adalah pengibaran Sang Saka Merah Putih oleh laskar rakyat Dinoyo bernama Negolan.
Keberanian di Tengah Keterbatasan
Dalam situasi genting tersebut, M. Yasin yang saat itu menjabat komandan pasukan Polisi di bawah Jepang memimpin pembongkaran gudang senjata. Senjata-senjata itu kemudian dibagikan kepada laskar rakyat dan Polisi Istimewa untuk memperkuat perjuangan.
"Keberanian polisi yang berdiri bersama rakyat di Surabaya membuktikan bahwa semangat juang tidak pernah padam. Mereka rela menghadapi risiko besar demi mempertahankan kemerdekaan," ujarnya.
Pertempuran Surabaya memang meninggalkan banyak korban jiwa, baik dari kalangan kepolisian maupun masyarakat. Namun, pengorbanan itu menjadi warisan sejarah yang terus menginspirasi generasi Polri hingga kini.
"Peristiwa heroik itu mengajarkan kepada kita bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Nilai pengabdian dan keberanian para pahlawan kepolisian menjadi kompas bagi setiap anggota Polri dalam melaksanakan tugas," tutup Kombes Pol Alamsyah.