SULAWESI UTARA — Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Utara, Joko Supratikto, mengungkapkan bahwa di tengah moderasi pertumbuhan ekonomi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) meningkat menjadi 7,12%. Angka ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 yang sedikit melambat ke level 5,42%, meski masih berada di atas rata-rata nasional.
"Insight yang menjadi nilai tambah bukan hanya tingkat pertumbuhan saja tetapi juga sumber penguatannya," kata Joko saat memberikan sambutan pada acara North Sulawesi Investment Forum (NSIF) 2026 di Manado, Jumat (07/08/26).
Konstruksi Tumbuh 7,63%, Tanda Aktivitas Pembangunan Menguat
Data yang dirilis BI menunjukkan Lapangan Usaha Konstruksi tumbuh 7,63% pada periode yang sama. Angka ini menjadi indikator adanya peningkatan aktivitas pembangunan fisik dan pembentukan kapasitas ekonomi baru di Sulut.
Menurut Joko, perkembangan ini membuktikan bahwa meskipun konsumsi atau sektor lain mengalami moderasi, investasi tetap menjadi motor penggerak yang mampu menjaga momentum pertumbuhan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa realisasi investasi, baik dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA), masih relatif terkonsentrasi di wilayah dan sektor tertentu.
RIRU Jadi Jawaban atas Tiga Hambatan Utama Investor
BI Sulut mengidentifikasi setidaknya tiga hal yang kerap menjadi penghambat investor untuk masuk ke daerah. Pertama, kurangnya komitmen proyek yang jelas. Kedua, minimnya informasi yang memadai mengenai potensi investasi. Ketiga, proyek yang ditawarkan seringkali belum siap untuk dieksekusi.
"Investor memerlukan komitmen proyek yang jelas, informasi yang memadai, proyek yang siap serta dukungan koordinasi yang berkelanjutan," tegas Joko.
Untuk menjawab tantangan itu, peran Regional Investment Relations Unit (RIRU) menjadi krusial. Lembaga yang dibentuk oleh gubernur ini melibatkan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Bank Indonesia, serta berbagai organisasi perangkat daerah dan instansi vertikal lainnya. RIRU diharapkan menjadi garda terdepan dalam memastikan proyek yang ditawarkan benar-benar siap dan memiliki kepastian hukum.
NSIF 2026: Panggung Promosi untuk Menarik Modal Asing dan Domestik
Forum NSIF 2026 sendiri dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan strategis, mulai dari Direktur Wilayah III Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Abdul Qodir, Deputy Head of Mission at the New Zealand Embassy Hamza Haidon, hingga Wakil Ketua Umum KADIN Pusat Sarman Simanjorang. Kehadiran perwakilan negara sahabat dan korps diplomatik menegaskan posisi Sulut sebagai pintu gerbang investasi di kawasan timur Indonesia.
Gubernur Sulut, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, melalui sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur Victor Mailangkay, memberikan apresiasi atas terselenggaranya forum ini. Menurutnya, NSIF sangat strategis untuk mendorong promosi potensi investasi.
"Melalui forum ini, para investor dapat melihat langsung potensi yang dimiliki Sulut," kata Yulius dalam sambutannya. Ia menambahkan, potensi sumber daya alam yang dimiliki Sulut memiliki nilai ekonomi tinggi, terlebih dengan dukungan komitmen pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif dan memberikan kepastian bagi dunia usaha.
Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi sekadar menarik investor masuk, melainkan memastikan investasi yang masuk semakin terdiversifikasi, bernilai tambah, dan memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi masyarakat Sulawesi Utara.