SULAWESI UTARA — Data perdagangan BEI menunjukkan tren negatif di sepanjang pekan ini. Selain IHSG yang terkoreksi tipis, rata-rata nilai transaksi harian juga ambles 1,84% menjadi Rp15,29 triliun, turun dari Rp15,57 triliun pada pekan sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan penurunan aktivitas pasar modal di tengah sentimen global yang masih bergejolak.
Penurunan paling dalam terjadi pada rata-rata volume transaksi harian yang merosot 28,33% menjadi 36,05 miliar lembar saham. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan 50,30 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya. Adapun rata-rata frekuensi transaksi harian juga tercatat turun 2,64% menjadi 2,15 juta kali transaksi.
Merosotnya volume transaksi menunjukkan investor cenderung menahan diri untuk melakukan perdagangan. Pelemahan ini terjadi di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global dan gejolak nilai tukar yang masih membayangi pasar keuangan domestik.
Dari sisi investor asing, data BEI mencatat nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp482,24 miliar pada perdagangan hari ini. Secara kumulatif, aksi jual investor asing sepanjang tahun 2026 telah mencapai Rp70,360 triliun, menunjukkan tekanan asing yang masih signifikan terhadap pasar saham Indonesia.
Tekanan jual asing ini menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan IHSG. Meskipun pelemahan indeks tergolong tipis, keluarnya dana asing dalam jumlah besar berpotensi terus menekan likuiditas dan sentimen pasar dalam jangka pendek.
Berikut ringkasan pergerakan pasar saham Indonesia selama periode 24-28 Agustus 2026:
Pelemahan IHSG pekan ini memperpanjang tren koreksi yang sempat terjadi pada pekan sebelumnya. Investor kini menanti data ekonomi terbaru dan kebijakan bank sentral untuk menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya. Level support terdekat IHSG berada di kisaran 6.500, sementara resistance berada di level psikologis 6.600.