SULAWESI UTARA — Kabar ini muncul di tengah meningkatnya pengawasan Meta oleh otoritas India terkait keamanan daring dan moderasi konten. Kepergian Devanathan juga terjadi hanya beberapa hari setelah Prabhjeet Singh, mantan eksekutif Uber yang memimpin bisnis India dan Asia Selatan, resmi bergabung sebagai kepala OpenAI untuk India. Langkah ini menandakan agresivitas OpenAI dalam membangun tim kepemimpinan regional setelah sebelumnya membuka kantor di Singapura, Tokyo, Seoul, Sydney, dan Delhi dalam dua tahun terakhir.
Dalam struktur barunya, Devanathan tidak hanya bertanggung jawab pada pertumbuhan pengguna, tetapi juga membawahi adopsi enterprise, kemitraan strategis, hingga keterlibatan regulasi di wilayah Asia Tenggara dan Australia. Dengan pengalamannya memimpin bisnis gaming Meta di Asia-Pasifik sebelum menjabat sebagai VP India dan Asia Tenggara pada Juni tahun lalu, ia dinilai memiliki pemahaman mendalam tentang lanskap pasar teknologi regional.
Kepergian Devanathan meninggalkan Meta di tengah periode yang tidak mudah. Pemerintah India baru-baru ini memanggil eksekutif Meta, termasuk Kepala Petugas Urusan Global Joel Kaplan, setelah Instagram keliru membatasi unggahan Perdana Menteri Narendra Modi pada Juli lalu. Perusahaan telah menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut.
Selain itu, New Delhi juga menyoroti isu konten pelecehan seksual anak di platform Meta. Sebuah laporan BBC menemukan iklan Instagram yang diduga menawarkan akses ke konten semacam itu. Menanggapi hal ini, Meta dalam pernyataan blog-nya menegaskan telah menghapus iklan dan akun yang melanggar, serta membantah tuduhan bahwa mereka secara sengaja menargetkan pengguna berdasarkan minat yang tidak pantas.
Meta juga mengklaim telah menghapus 160.000 akun di India selama enam bulan berdasarkan sinyal yang mengindikasikan aktivitas eksploitasi anak. Pasca kepergian Devanathan, Managing Director Meta India, Arun Srinivas, akan melapor langsung ke Benjamin Joe, Vice President Meta untuk kawasan Asia-Pasifik.
Perekrutan ini menunjukkan bahwa OpenAI serius memperkuat basis operasionalnya di luar Amerika Serikat. Fokus pada enterprise adoption dan kemitraan menjadi sinyal bahwa OpenAI tidak hanya mengejar pengguna individu, tetapi juga membangun ekosistem bisnis yang lebih luas di kawasan yang pertumbuhan ekonominya pesat. Bagi pengguna di Indonesia, langkah ini berpotensi menghadirkan layanan ChatGPT yang lebih adaptif terhadap kebutuhan dan regulasi lokal.
Di sisi lain, restrukturisasi kepemimpinan Meta di Asia-Pasifik menunjukkan upaya perusahaan untuk merespons tekanan regulasi yang semakin kompleks. Dengan pengalaman Devanathan yang telah membawanya memahami dinamika pasar regional, kepindahannya ke kubu kompetitor menjadi perkembangan yang patut disimak dalam persaingan industri kecerdasan buatan global.