Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) mencatat lonjakan signifikan aktivitas kegempaan vulkanik dangkal Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Ketua PGA Armando Menguleh menyebutkan gempa vulkanik dangkal mencapai 111 kali pada Kamis (27/8), jauh di atas kondisi normal yang hanya berkisar 10-20 kali per hari.
TOMOHON —
Peningkatan kegempaan ini mengindikasikan adanya suplai magma dari dalam yang bergerak menuju permukaan. Meski intensitasnya tidak terlalu besar, potensi letusan tetap diwaspadai mengingat aktivitas vulkanik yang fluktuatif.
Armando menjelaskan bahwa peningkatan kegempaan Gunung Lokon sebenarnya sudah mulai terdeteksi sejak 20 Agustus lalu. Namun, lonjakan paling signifikan baru terjadi pada 27 Agustus ketika jumlah gempa vulkanik dangkal melonjak drastis hingga 111 kali dalam sehari.
"Peningkatan aktivitas kegempaan Gunung Lokon sudah dimulai sejak tanggal 20 Agustus dan kemarin tanggal 27 Agustus kegempaan naik signifikan," kata Armando di Tomohon, Jumat.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pendakian menuju kawah ataupun puncak Gunung Lokon. Potensi letusan sewaktu-waktu bisa terjadi mengingat karakteristik gunung api yang tergolong aktif di Sulawesi Utara ini.
Rekomendasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga menegaskan larangan bagi masyarakat dan wisatawan untuk mendekati serta beraktivitas di dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan. Status Gunung Lokon sendiri berada di Level II atau Waspada sejak 31 Januari 2025 pukul 06.00 WITA.
PGA telah menyampaikan laporan peningkatan aktivitas ini kepada pemerintah kota melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk ditindaklanjuti. Langkah koordinasi ini dilakukan agar kesiapsiagaan di tingkat daerah bisa segera disiapkan.
Armando berharap seluruh rekomendasi yang dikeluarkan Kementerian ESDM dipatuhi masyarakat agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Ia juga mengingatkan bahwa letusan terakhir Gunung Lokon terjadi pada Agustus 2015.