SULAWESI UTARA — Langit malam di sejumlah negara menjadi panggung pertunjukan alam saat gerhana bulan sebagian berlangsung. Wilayah Amerika Serikat hingga Timur Tengah mencatat momen ketika permukaan bulan tertutup bayangan Bumi dan berubah menjadi kemerahan, fenomena yang dikenal sebagai Blood Moon.
Fenomena ini terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis hampir sejajar. Sebagian piringan Bulan memasuki umbra Bumi, membuatnya tampak gelap dengan semburat merah tembaga.
Warna kemerahan itu muncul akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Cahaya dengan panjang gelombang merah lebih mudah menembus atmosfer dan jatuh ke permukaan Bulan.
Fotografer Reuters menangkap momen tersebut dari sejumlah titik di Amerika Serikat. Sementara itu, langit Mesir juga menjadi saksi penampakan gerhana yang berlangsung beberapa jam tersebut.
Masyarakat di kawasan yang berada dalam wilayah visibilitas dapat menyaksikan langsung tanpa alat bantu optik, meski teleskop atau binokular memberikan detail lebih baik. Kamera dengan lensa telefoto menjadi andalan untuk mengabadikan tekstur permukaan Bulan saat tertutup bayangan.
Proses perubahan warna ini murni fisika atmosfer. Meski Bumi menghalangi cahaya Matahari langsung menuju Bulan, sebagian cahaya tetap dibelokkan melewati tepi atmosfer Bumi.
Spektrum biru dihamburkan lebih kuat oleh partikel atmosfer, sehingga yang tersisa dan mencapai Bulan adalah spektrum merah. Hasilnya, Bulan tampak seperti bola tembaga yang menggantung di langit malam.
Gerhana bulan sebagian kali ini berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, memungkinkan pengamatan dari berbagai zona waktu. Wilayah yang berada di sisi malam Bumi saat peristiwa berlangsung mendapatkan kesempatan terbaik untuk menyaksikannya.
Untuk pengamatan di Indonesia, visibilitas bergantung pada posisi Bulan saat fase gerhana berlangsung. Pengamat di wilayah yang masih memiliki Bulan di atas cakrawala dapat melihat sebagian prosesnya.
Fenomena gerhana bulan sebagian berikutnya akan kembali terjadi dalam beberapa tahun mendatang. Setiap peristiwa memiliki durasi dan tingkat keterlaluan yang berbeda, menjadikannya momen yang selalu dinanti komunitas astronomi dan publik umum.